Belajar dari Gerhana Matahari

Oleh Dedi Junaedi
Dosen Ekonomi & Keuangan Syariah INAIS Bogor (Terpublikasi di Majalah Gontor edisi April 2016)

“Wahai ummat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” [HR Bukhari]
Rabu pagi, 29 Jumadil Awal 1437 H atau 9 Maret 2016, adalah saat istimewa dan bersejarah bagi Indonesia. Sebagian besar warga bersukacita menyambut di pusat-pusat pengamatan dan tayangan gerhana matahari total (GMT). Sebagian lain menyambut ayat kauniyah itu dengan shalat kusuf berjamaah di masjid-masjid dan atau mushola masing-masing.
Pada waktu dhuha, sekitar pukul 7.20-7.25 WIB, GMT mencapai puncaknya. Saat itulah, seruan takbir dan ungkapan takjub bergemuruh di seantero Nusantara demi melihat pemandangan luar biasa indah dan langka itu. Konon perlu sekitar 375 tahun lagi GMT terjadi di lokasi yang sama. Maka, logis jika disambutnya dengan aneka ekspresi gembira.
Bayangkan, matahari yang biasanya bersinar terang tertutup oleh bulan sehingga sinarnya tidak sampai ke lingkungan kita. Akibatnya, sedikitnya 11 provinsi yang terkena lintasan inti GMT mendadak gelap seperti malam hari. Meski hanya berlangsung sebentar, tak lebih lima menit saja, namun cukup menimbulkan efek keterkejutan bagi setiap makhluk yang mengalaminya.
Binatang yang biasanya tidur di malam hari terkejut dan mengikuti nalurinya, menyangka hari sudah mulai malam sehingga bergegas-gegas pulang ke kandang. Sebaliknya, binatang malam mendadak terbangun dan mulai beterbangan untuk mencari makan. Demikian halnya tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan hijau yang biasa berfotosintetis menyerap karbon dikosida (CO2) + sinar matahari untuk menghasilkan karbohidrat (C6H12O6)n dan oksigen (O2), sekonyong-konyong terhenti dan berubah siklusya menjadi aktif berespirasi yang menghisap oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida.
Manusia, sebagai makhluk berakal, menyambut gerhana dengan aneka respon. Dahulu kala, banyak orang percaya mitosbahwa gerhana terjadi karena matahari atau bulan ditelan oleh raksasa, Batara Kala. Karena itu, mereka memukul-mukul kentongan, lesung, dan benda lain yang menimbulkan bunyi nyaring dan beruara gaduh dengan tujuan agar raksasa itu takut dan mau memuntahkan matahari atau bulan yang telah ditelannya.
Setelah sains dan teknologi berkembang, manuisa berilmu percaya gerhana adalah fenomena alam yang muncul dalam siklus tertentu.Gerhana matahari terjadi ketika posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari. Cahaya Matahari tertutup oleh Bulan sehingga tidak sampai ke Bumi pada waktu dan kawasan tertentu.
Bulan sebenarnya jauh lebih kecil dari Matahari. Diameternya 3.476 km berbanding 1.392.000 km atau satu berbanding 400. Mengapa yang kecil bisa menutupi yang jauh lebih besar? Ini terjadi karena Bulan berjarak lebih dekat dengan Bumi ketimbang Matahari. Jarak Bumi-Matahari adalah 150 juta km atau setara 390 kali dari jarak Bumi-Bulan. Maka, walaupun Bulan lebih kecil, bayangannya mampu menutup cahaya Matahari sebagian atau sepenuhnya.
GMT pernah pula terjadi pada masa Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Atas kehendak Allah, peristiwa langit saat itu bersamaan dengan wafatnya Ibrahim, putra Rasulullah SAW. Ketika ada prasangka yang mengkaitkan gerhana dengan wafatnya Ibrahim, maka Nabi SAW bersabda:.”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut, maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, kerjakan shalat dan bersedekahlah.” (HR Bukhari Muslim) Bagi kaum Muslimin, sudah ada nash yang jelas bahwa GMT atau GMS adalah bagian dari Sunatullah. Banyak ayat Al-Qur’an menyebut sifat dan aktivitas benda langit seperti Bulan, Bumi, Matahari, dan bintang-bintang di jagat raya. Misalnya, dalan surat Ar-Rahman ayat 5: “Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” Dalam surat Yasin 37-40, Allah menjelaskan soal rahasia siang dan malam, Bulan, Bumi dan Matahari yang berotasi dan berevolusi sesuai kadarnya. Siang dan malam, matahari dan bulan, adalah ciptaan Allah. Semuanya mengikuti sunatullah yang disederhanakan sebagai hukum alam.
Menurut astronomi, Matahari adalah nama bintang di pusat Tata Surya. Bentuknya nyaris bulat, terdiri dari plasma panas bercampur medan magnet. Diameternya 1.392.684 km. Kira-kira 109 kali diameter Bumi. Ada pun massanya mencapai 2×1030 kilogram, atau sekitar 330.000 kali massa Bumi. Setiap detik ada 760 ribu ton hidrogen bereaksi fusi nuklir untuk menghasilkan energi dan sinar matahari yang menjangkau Bumi dalam waktu 18 menit 19 detik saja.
Namun begitu, benda langit yang tampak besar dan berat itu sesungguhnya hanya debu kecil saja di belantara jagat raya yang maha luas. Dia hanya satu dari sekian milyar bintang gemintang di galaksi Bima Sakti. Dan, Bima Sakti juga hanya satu dari sekian milyar galaksi yang diciptakan Allah SWT. Galaksi-galaksi beserta gususan bintang di dalamnya saling bergerak dengan kecepatan tertentu. Matahari yang berusia 4,6 milyar tahun mengorbit pusat galaksi dengan laju 220 km/detik. Galaksi Bima Sakti, yang meliputi 50 sistem bintang, bergerak dengan kecepatan 550 km/detik ke arah konstelasi Hydra. Sementara Proxima Centauri, bintang tetangga terdekat, berjarak sekitar 4,2 tahun cahaya dari Matahari.
Jika Matahari itu debu, manusia jauh lebih renik lagi. Berapa besar dan luasnya alam semesta? Belum ada yang memastikannya. Sebagaimana galaksi yang terus bergerak, ternyata alam semesta itu juga terus berkembang setiap saat. Maka, sungguh tidak terbayangkan betapa besar dan luasnya kuasa Allah, Rabbil ‘alamin. Wallhu’alam.

Comments

Popular posts from this blog

Wakalah, Hiwalah dan Kafalahah, Hiwalah dan Kafalah

Indikator Keberhasilan Pembangunan Dalam Perspektif Islam

Mengenal DNA Mitokondria