External Driver Pengendali Global Warming

Oleh Dedi Junaedi
Redaktur Pelaksana Majalah Sains Indonesia dan Dosen Ekonomi Syariah INAIS Bogor

Atmosfir Bumi dilihat dari Stasian Antariksa ISS (International Space Station).


Riset baru dari NASA dan Duke University menyajikan realitas baru bahwa siklus alam tidak cukup untuk menjelaskan fenomena pemanasan atmosfir global seabad terakhir.

Sebuah studi yang digagas para saintis di Jet Propulsion Laboratory (JPL) milik Badan Antariksa Nasional AS (NASA) di Pasadena, California, dan Duke University di Durham, North Carolina, menunjukkan cukup rinci alasan bagaimana temperatur global masih relatif stabil dalam jangka waktu lama. Hingga berabad-abad. Sementara pada saat yang sama, atmosfir kita, telah dibanjiri emisi gas-gas rumah kaca (GRK) –akibat aktivitas manusia-- dalam kadar yang luar biasa jumlahnya.

Mengpa itu terjadi? ‘’Pasti ada ‘Kekuatan Eksternal’’ atau Outside Forces yang ikut mengendalikan stabilitas atmosfir tersebut,’’ ungkap Patrick Brown seperti dikutip Scitech Daily (28/2). Fakta riset ini menunjukkan betapa terbatasnya pengetahuan dan kemampuan sainstek manusia. Untuk harmonisasi jagat raya mutlak diperlukan peran Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Patrick Brown adalah mahasiswa doktoral dia Duke’s Nicholas School of the Environment. Dia dan koleganya di JPL NASA mengkombinasikan model peramalan iklim global dengan perubahan tingkat energi yang dilepas ke atas atmosfir Bumi melalui data pemantauan lewat satelit selama lebih 15 tahun. Data satelit diperoleh dari instrumen Clouds and the Earth’s Radiant Energy System (CERES) yang dipasang pada wahana Aqua dan Terra punya NASA. Hasil kajian mereka mengungkap adanya fenomena unik bagaimana Bumi kembali mendingin setelah periode pemanasan alaminya.

Penelitian Brown dkk tersebut dipublikasi Journal of Climate terbaru(18/2). Di jurnal ilmiah tersebut, Patrick T Brown dan Wenhong Li menulis bersama artikel berjudul “Unforced Surface Air Temperature Variability and Its Contrasting Relationship with the Anomalous TOA Energy Flux at Local and Global Spatial Scales. Studi ini merupakan hasil kolaborasi riset global yang didanai oleh National Science Foundation dan NASA.
Planck Response

Saintis dari lintas disiplin ilmu menengarai bahwa ketika Bumi memanas, seakan-akan dia dapat merestorasi suhu keseimbangan melalui fenomena yang mereka sebut sebagai Planck Response.Singkatnya, gejala itu berupa peningkatan energi infra merah total saat Bumi memanas. Bersama itu muncul respon penyelamatan yang memungkinkan akumulasi panas yang tercipta dilepaskan melalui lapisan atmosfir puncak ke angkasa raya sehingga tercipta temperatur Bumi yang relatif stabil dan setimbang.

Riset baru, bagaimana pun, menunjukkan fenomena itu sendiri tidak sederhana. “Hasil analisis kami mengkonfirmasi bahwa Planck Response berperan dominan dalam merestorasi stabilitas temperatur global di atmosfir Bumi. Yang mengejutkan, kami menemukan gejala itu terkait dengan aktivitas lokal melalui perubahan jebakan panas dalam mekanisme pembentukan awan, uap air, salju dan es,’’ ungkap Brown.

Awalnya, tambahnya, mereka menduga bahwa sistem iklim global akan menciptakan perubahan temperatur yang terus meningkat dan membesar seiring dengan tingginya akumulasi gas-gas rumah kaca. Sebuah investigasi yang lebih rinci melalui observasi satelit dan model-model peramalan iklim membantu para periset untuk merekonsiliasi akhir bahwa ada gejala pemanasan global yang terkoreksi oleh gejala iklim lokal.

"Sementara temperatur global cenderung stabil karena Planck Response, ada yang penting lain dan sebelumnya kurang diperhatikan. Yakni mekanisme perubahan iklim di tingkat lokal," jelas Wenhong Li, asisten profesor iklim di Duke University. Mekanisme ini termasuk rahasia pelepasan net energi selama berada di daerah anomali dingin dan transportasi energi untuk wilayah daratan dan area kutub. Di kedua daerah tersebut, Planck Response tampak mendominasi bagaimana energi lokal yang masuk dapat memerangkap panas akibat global warming.
External Driver

Untuk merekonsilisasi pertemuan antara masukan energi global dan perubahan sirkulasi atmosfir lokal sehingga tercipta keseimbangan temperatur yang ‘nyaman’ di Bumi mutlak diperlukan tranfer energi skala besar. ‘’Kehadiran adanya External Driver dalam restorasi temperatur global Bumi jelas diperlukan. Kalau tidak, bagaimana bisa menjelaskannya,’’ tanya Li.

Hasil kajian ilmiah Tim NASA dan Duke University tersebut mematahkan pandangan skeptis bahwa pemanasan global dalam jangka panjang terjadi secara tak terduga. Seolah bebas dari campur tangan Driver Eksternal, dan semata-mata akibat peran aktvitas manusia yang cenderung merusak lingkungan alam.

"Studi ini juga menggarisbawahi bahwa perubahan berkelanjutan suhu global seperti yang diamati selama abad terakhir membutuhkan driver. Seperti pengaturan konsentrasi gas rumah kaca atau ‘Kekuatan Luar Biasa’ yang dapat mengendalikannya," jelas Brown.

Para ilmuwan telah lama percaya bahwa peningkatan gas rumah kaca memainkan peran utama dalam menentukan tren pemanasan planet kita. "Studi ini memberikan bukti lebih lanjut bahwa siklus iklim alam saja tidak cukup untuk menjelaskan mekanisme pemanasan global yang diamati selama abad terakhir," ungkap Jonathan Jiang, saintis dari JPL NASA.

Tahun lalu, para penerili MITmengungkap fakta ilmiah bahwa fenomena global warming hanya dapat menjelaskan separuh dari gejala anomali iklim. Separuh lainnya masih dipengaruhi oleh Faktor X yang belum diketahui.

Di ruang kuliah dan diskusi ilmiah sudah lama berlaku bahwa pemanasan global bergantung pada efek gas rumah kaca. Penjelasan singkatnya, iklim tergantung pada keseimbangan antara dua jenis radiasi yang berbeda: Melalui GRK, Bumi menyerap cahaya tampak dari matahari (disebut radiasi gelombang pendek) dan memancarkan cahaya inframerah (radiasi gelombang panjang) ke ruang angkasa.
Koreksi Model Iklim

Tetapi, mereka menemukan kenyatan lain saat melakukan simulai model komputer dengan model keseimbangan energi sederhana. Bahwa ketika radiasi gelombang panjang terperangkap CO2, Bumi memanas, dan berdampak anomali sistem iklim. Es dan salju mencair hingga fenomena memutar reflektor sinar matahari menjadi titik-titk gelap. Kadar air di atmosfir meningkat karena udara yang lebih panas dapat menjaga uap air lebih banyak dan menyerap lebih banyak radiasi gelombang pendek.. Kedua masukan tersebut mengurangi jumlah radiasi gelombang pendek yang memantul kembali ke angkasa, dan membuat permukaan planet cepat menghangat.

Sementara itu, seperti pemanasan tubuh, Bumi yang menjadi gudang radiasi gelombang panjang lebih efektif membatalkan efek jebakan CO2. Namun, Bumi yang lebih gelap menyerap lebih banyak sinar matahari sehingga efek pemanasan lebih banyak berasal dari radiasi gelombang pendek.

"Jadi ada dua jenis radiasi penting mempengaruhi iklim. Salah satunya terpengaruh oleh CO2, tapi radiasi lain justru langsung mempengaruhi pemanasan global. Temuan ini tentu saja mengejutkan," kata Kyle Armour, yang merupakan mahasiswa postdoc di Departemen Ilmu Bumi, Atmosfir dan Planet MIT..

Dalam model komputer iklim, konsentrasi CO2 tinggi di atmosfir Bumi menimbulkan efek GRK dan menyebabkan pemanasan global. Namun, sesuatu yang membingungkan terjadi: Radiasi infra merah yang lolos ke ruang angkasa yang diharapkan menurun seiring dengan meningkatnya CO2, ternyata menunjukkan kondisi sebaliknya. Jumlah radiasi yang terukur malah meningkat. Pada saat yang sama, atmosfer menyerap lebih banyak radiasi matahari. Penyerapan gelombang pendek ini pada akhirnya menopang pemanasan global.

"Temuan itu seakan bertentangan dengan pemahaman dasar tentang pemanasan global," kata penulis Aaron Donohoe, mantan postdoc MIT yang kini menjadi peneliti di Applied Physics Laboratory Universita Washington.

"Itu membuat kami berpikir bahwa harus ada model peramalan baru yang dapat menyelesaikan paradoks bahwa pemanasan global lebih karena radiasi gelombang pendek yang meningkat, bukan oleh penurunan radiasi gelombang panjang," tambah rekan posdoc Kyle Armour di MIT.

Comments

Popular posts from this blog

Wakalah, Hiwalah dan Kafalahah, Hiwalah dan Kafalah

Indikator Keberhasilan Pembangunan Dalam Perspektif Islam

Analisis Kualitas Pelayanan Lembaga Amil Zakat Terhadap Loyalitas Muzaki di Jabotabek