Gharar Dalam Bisnis MLM

Oleh Dedi Junaedi
Dosen Ekonomi & Keuangan Syariah INAIS

PENDAHULUAN
Sejak masuk ke Indonesia pada tahun 1980-an, jaringan bisnis Multi Level Marketing (MLM) terus tumbuh dari tahun ke tahun. Pertumbuhannya kian menjamur setelah adanya badai krisis moneter dan ekonomi. Pemain bisnis MLM memanfaatkan momentum dan situasi krisis untuk melakukan ekspansi jaringannya dengan memasarkan produk asing maupun lokal.
Bisnis MLM banyak diminati banyak kalangan mengingat besarnya potensi pasar di Indonesia. Jumlah populasi yang sangat besar, mencapai 240 juta jiwa, menjadi magnet tersendiri. Bayangkan, kalau rata-rata penduduk minimal belanja per bulan Rp 10 ribu per orang, maka akan terjadi transaksi dan perputaran uang sejumlah Rp 2,4 trilyun per bulan.
Asosiasi Penjual Langsung Indonesia (APLI) mencatat terdapat lebih dari 200-an perusahaan yang menggunakan sistem MLM di Indonesia. Mereka masing-masing memiliki karakteristik, spesifikasi, pola, sistem dan model tersendiri. Yang cukup populer antara lain CNI, Amway, Avon, Tupperware, Sun Chlorella, DXN, Propolis Gold, Kamyabi-Net, Persada Network, Tanshi, termasuk bisnis money game yang berkedok MLM seperti Gee Cosmos. Qisar, dan Alam Raya.
Belakangan, MLM tak hanya menjual produk dengan model piramida penjualan. Aneka bisnis jasa juga ditawarkan, seperti layanan ibadah umrah, haji, ziarah dan wisata perjalanan. Pertanyaannya, bagaimana Islam memandang MLM? Apakah MLM termasuk bisnis jual beli yang dibolehkan? Adakah unsur gharar dalam bisnis MLM? Makalah berikut mencoba merumuskan jawabannya, dengan terlebih dahulu kita perlu membahas soal jual beli yang syah, lalu menelaah MLM sebagai bagian dari jual beli, baru kemudian membahas soal gharar dan potensi kandungan gharar dalam bisnis MLM.

JUAL BELI
Jual beli jelas merupakan transaksi muamalah yang populer dalam Islam. Banyak nash menyebut jual beli sebagai usaha mata pencaharian yang dianjurkan. Nabi MUhammad SAW sendiri pernah berporfesi sebagai pedagang. Banyak tokoh besar dalam Islam berprofesi sebagai pedagang atau saudagar. Antara lain sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Abdurahman bin Auf, kemudian juga para ulama imam mazhab seperti Imam Abu Hanifah, Maliki, dan Syafi'i.
Jual beli adalah suatu kegiatan tukar menukar barang dengan barang lain dengan tata cara tertentu. Termasuk dalam hal ini adalah jasa. Menurut Islam, jual beli disebut syah jika memenuhi rukun dan syaratnya.
Rukun jual beli sendiri ada tiga, yaitu:
1. Ada penjual dan pembeli yang keduanya harus berakal sehat, atas kemauan sendiri, dewasa/baligh dan tidak mubadzir alias tidak sedang boros.
2. Ada barang atau jasa yang diperjualbelikan dan barang penukar seperti uang, dinar emas, dirham perak, barang atau jasa. Untuk barang yang tidak terlihat karena mungkin di tempat lain namanya salam.
3. Ada ijab qabul yaitu adalah ucapan transaksi antara yang menjual dan yang membeli (penjual dan pembeli).
Sedangkan syarat syahnya jual beli ada empat; yaitu :
1. Timbangan yang jelas (diketahui dengan jelas berat jenis yang ditimbang)
2. Barang dan harga yang jelas dan dimaklumi (tidak boleh harga yang majhul (tidak diketahui ketika beli).
3. Waktu transaksi yang dimaklumi
4. Adanya ridha (sukarela) kedua belah pihak terhadap bisnis yang dijalankan.
Islam juga mengingatkan jual beli yang tidak syah atai terlarang. Antara lain: membeli barang di atas harga pasaran; membeli barang yang sudah dibeli atau dipesan orang lain; memjual atau membeli barang dengan cara mengecoh/menipu (bohong); menimbun barang yang dijual agar harga naik karena dibutuhkan masyarakat; menghambat orang lain mengetahui harga pasar agar membeli barangnya; menyakiti penjual atau pembeli untuk melakukan transaksi; menyembunyikan cacat barang kepada pembeli; menjual barang dengan cara kredit dengan imbalan bunga yang ditetapkan; menjual atau membeli barang haram; jual beli dengan tujuan buruk seperti untuk merusak ketentraman umum, menyempitkan gerakan pasar, mencelakai para pesaing, dan lain-lain.

BISNIS MLM
MLM adalah sistem penjualan yang memanfaatkan konsumen sebagai tenaga penyalur secara langsung. Sistem penjualan ini menggunakan beberapa level (tingkatan) di dalam pemasaran barang dagangannya.
Promotor (upline) adalah anggota yang sudah mendapatkan hak keanggotaan terlebih dahulu, sedangkan bawahan (downline) adalah anggota baru yang mendaftar atau direkrut oleh promotor. Akan tetapi, pada beberapa sistem tertentu, jenjang keanggotaan ini bisa berubah-ubah sesuai dengan syarat pembayaran atau pembelian tertentu.
Komisi yang diberikan dalam pemasaran berjenjang dihitung berdasarkan banyaknya jasa distribusi yang otomatis terjadi jika bawahan melakukan pembelian barang. Promotor akan mendapatkan bagian komisi tertentu sebagai bentuk balas jasa atas perekrutan bawahan. Harga barang yang ditawarkan di tingkat konsumen adalah harga produksi ditambah komisi yang menjadi hak konsumen karena secara tidak langsung telah membantu kelancaran distribusi.
Untuk menjadi keanggotaan MLM, seseorang biasanya diharuskan mengisi formulir dan membayar uang dalam jumlah tertentu dan kadang diharuskan membeli produk tertentu dari perusahaan MLM tersebut, tetapi kadang ada yang tidak mensyaratkan untuk membeli produk tersebut. Pembayaran dan pembelian produk tersebut sebagai syarat untuk mendapatkan poin tertentu.
Kadang poin bisa didapatkan oleh anggota jika ada pembelian langsung dari produk yang dipasarkan, maupun melalui pembelian tidak langsung melalui jaringan keanggotaan. Tetapi kadang poin bisa diperoleh tanpa pembelian produk, namun dilihat dari banyak dan sedikitnya anggota yang bisa direkrut oleh orang tersebut. Bonus atau pendapatan lebih tergantung opada banyaknya downline, bukan banyaknya transaksi jual beli barang. Dari sinilah, potensi gharar bermunculan.
GHARAR MENURUT AL QUR'AN
Al Qur'an menyebut istilah gharar dalam 19 ayat dari 15 surat. Istilah gharar dalam Al Qur'an muncul dalam berbagai bentuk. Antara lain  (ditipu), (memperdaya),  (tertipu),  (terpedaya),  (dengan menipu),   (dalam keadaan tertipu), • (tipuan belaka),  (bujukan menipu),  (memperdayakanmu),  (kesenangan yang menipu).
Gharar, menurut Ibnu Taymiyah, adalah kondisi mengandung ketidakpatian. Gharar terjadi karena seseorang tidak dapat mengetahui kemungkinan yang terjadi sehingga bisa mengundang pertaruhan, penipuan, kebohongan, ketidakjujuran, perjudian atau game of chance (permainan kesempatan)
Adakalanya gharar disebut dengan padanannya, al maysir (perjudian) dan tipu daya (makar dan kaid)). Al Qur'an sedikitnya empat kali mengulang kata Al Maysir. Yakni, tentang kukum berjudi: 2:219, 5:90, 5:91 , dan kerusakan akibat berjudi: 5:91. Sedang tipu daya diulang 43 kali pada 25 surat.
"(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya". (Allah berfirman): "Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, Maka Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".(8:49)
Jalalain: mereka (kaum muslimin) tertipu oleh agamanya. Ini ungkapan orang-orang munafik tatkala menyaksikan orang muslim yang jumlahnya sedikit mau berperang melawan orang-orang kafir dalam jumlah banyak.
Al Maraghi: orang-orang munafik dan lemah iman berkata: orang-orang mukmin tertipu oleh agamanya sehingga mereka berani bertempur. Padahal jumlah mereka sedikit, sedang musuh mereka banyak.
Ibnu Katsir: Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan penafsiran ayat ini dari Ibnu Abbas. Ketika kaum kafir dan muslimin saling berdekatan, maka Allah menyedikitkan kaum muslimin menurut pandangan kaum musyrikin. Allah juga menyedikitkan kaum musyrikin di mata kaum muslimin.Orang munafik berkata: "mereka (orang muslim) ditipu oleh agamanya." Mereka mengatakan demikian karena melihat jumlah kaum muslimin yang sedikit. Mereka menduka kaum muslimin dapat dikalahkan.
Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah.(82:6) Jalalain: apa yang telah memperdayakanmu?
Ibnu Katsir: apa yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah sehingga kamu berbuat kemaksiatan. Menurut sebuah hadis, Allah akan berfirman di hari kiamat nanti, Hai anak Aadam apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap-Ku? Hai Ibnu Adam, mengapa kamu tidak mengikuti para utusan? Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Yahya Al Bakka bahwa dia telah mendengar Ibnu Umar mengatakan ketika membaca ayat Yaa ayyuhal insaanu maa gharraka birabbikal kariim, katanya: "demi Allah kebodohanlah yang telah memberdayakannya." Ibnu Abbas berpendapat: tidak ada yang memperdayakan anak cucu Adam kecuali musuh syaitaniah. Sayyid Quthb: wahai manusia, apakah yang mempperdayakan mu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanm, sehingga membuat kamu tidak memenuhi hak-Nya, mengabaikan perintah-Nya dan kurang beradab kepada-Nya? Padahal, Dia-lah Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang telah menganugrahkan kemurahan, karunia dan kebaikan-Nya kepadamu. Diantara anugrahnya adalah kemanuasianmu yang membedakanmu dari seluruh makhluk. Dengan curahan karuynia itu, kamu bisa membedakan, emmahami dan menyadari apa yang layak dan apa yang tidak layak.
Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: "Bukankah Kami dahulu bersama-sama dengan kamu?" mereka menjawab: "Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran Kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang Amat penipu.(57:14)
Jalalain: kalian tertipu oleh angan-angan kosong, yakni ketamakan dunia.
Ibnu Katsir: kalian telah tertipu oleh angan-angan duniawi.Kalian telah tertipu oleh syaithan yang amat penipu hingga kalian lupa dari kebenaran dan seruan mengingat Allah. "Yang demikian itu, karena Sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat.(45:35) Jalalain: kalian telah ditipu oleh kehidupan dunia sehingga kalian berani mengatakan tidak ada hari berbangkit dan tidak ada hisab (setelah mati).
Ibnu Katsir: kamu sekalian telah ditipu oleh kehidupan dunia yang telah memperdayai kamu, dan kamu merasa tenteram dengannya sehingga kamu menjadi orang-orang yang merugi.
"Hal itu adalah karena mereka mengaku: "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung". mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. (3:24)
Jalalain: mereka diperdayakan dalam agama mereka
Ibnu Katsir: mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. Maksudnya, mereka dikokohkan dalam kebatilan oleh apa yang telah memperdaya diri mereka sendiri, yaitu api neraka tidak akan menyentuh mereka kecuali hanya selama beberapa hari saja. Ini semata-mata hanya merupakan rekayasa mereka.

"Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (7:22)
Tafsir Jalalain: bujukan dengan tipu daya
Al Maraghi: tipuan dengan kebatilan. Iblis melakukan tipudaya dengan bersumpah atasnama Allah dan berdalih sebagai penasihat untuk kebaikan Adam & Hawa. Kedua terpedaya melakukan pelanggaran karena seolah-olah memandang baik pelanggaran. Ibnu Katsir: membujuk dengan tipuan, tipuan iblis ketika menggoda adam-hawa dengan bersumpah atasnama Allah.
"Atau siapakah Dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah yang Maha Pemurah? orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu. (67:20)
Jalalain: tertipu bujuk rayu syaithan seolah azab tidak akan turun.
Ibnu Katsir: orang-orang kafir (yang suka membujuk rayu itu) dalam keadaan tertipu. "Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, Padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.(4:120) Jalalain: tipu daya belaka atau omong kosong semata.
Al Maraghi: tipudaya dengan menjanjikan manfaat sesungguhnya merupakan kebatilan yang memperdaya, menimbulkan kerugian, penderitaan dan bahaya berkepanjangan.
Ibnu Katsir: Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (An-Nisa:120). Demikianlah akhir dari apa yang dijanjikan oleh setan pada kenyataannya, karena sesungguh-nya setan selalu menjanjikan kepada para pendukungnya dan membangkitkan angan-angan kosong mereka, bahwa merekalah orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Padahal sesungguhnya setan berdusta dalam janji yang dibuat-buatnya itu.
"Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka[861]. (17:64)
[861] Maksud ayat ini ialah Allah memberi kesempatan kepada iblis untuk menyesatkan manusia dengan segala kemampuan yang ada padanya. tetapi segala tipu daya syaitan itu tidak akan mampu menghadapi orang-orang yang benar-benar beriman.
Jalalain: janji manis syaithan hanyalah tipuan kebatilan semata.
Ibnu Katsir: yang dijanjikan syathan itu hanyalah tipuan belaka. Pada hari kiamat, dimana kebenaran tak mungkin dipungkiri, syaithan akan mengakui: "sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang ebnar, dn aku pun menjanjikan kepadamu, namun aku menyalahinya."
"Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata :"Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada Kami melainkan tipu daya". (33;12)
Ibnu Katsir: Orang-orang munafik dan yang berpenyakit hati suka melakukan tipu daya atasnama Allah. Di antara karakter orang munafik: suka menampakkan kesamaran, dendam, kelemahan dan kepicikan karena lemah iman.
"Katakanlah: "Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah. perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit atau Adakah Kami memberi kepada mereka sebuah kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas daripadanya? sebenarnya orang-orang yang zalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka". (35:40) Jalalain: tipuan melalui perkataan bahwa sesuatu (berhala) bisa memberi syafaat.
Ibnu Katsir: tipuan itu sifat dari orang zhalim. Sebernarnya perbuatan mereka hanyalah memperturutkan hawa nafsu, perbuatan penuh kepalsuan, kebatilan dan kebohongan. Perbuatan ini bisa memancing terguncang dan lenyapnya bumi dan langit dari posisinya. Hanya rahmat Allah yang menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap.
"Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)[499]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (6:112)
[499] Maksudnya syaitan-syaitan jenis jin dan manusia berupaya menipu manusia agar tidak beriman kepada Nabi.
Jalalain: bujukan melalui perkataan manis untuk memulas kebatilan
Al Maraghi: tipuan tersembunyi dengan kata-kata manis dan kepalsuan yang menggiurkan sehingga kebatilan tampak seperti kebaikan. Ibnu Katsir: sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (AlAn'am:112). Manusia itu mempunyai setan dan jin mempunyai setan, lalu setan jin membisikkan kepada setan manusia. Maka sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataanperkataan yang indah indah untuk menipu (manusia).
Asbat mengatakan dari AsSaddi, dari Ikrimah sehubungan dengan makna firmanNya: sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain. (AlAn'am: 112). Adapun yang dimaksud dengan setan-setan dari jenis manusia ialah setan-setan yang menyesatkan orang lain, dan setan-setan dari jenis jin ialah yang menyesatkan jin lainnya. Keduanya bersua, lalu saling mengatakan kepada temannya, "Sesungguhnya aku telah menyesalkan temanku dengan cara anu dan anu, maka sesatkanlah olehmu temanmu itu dengan cara demikian dan demikian." Maka sebagian dari mereka memberitahukan cara-cara menyesatkan kepada sebagian yang lain.
Dari sini Ibnu Jarir berpemahaman, yang dimaksud dengan setan-setan dari jenis manusia yang ada pada Ikrimah dan AsSaddi ialah setan-setan dari jenis jin; merekalah yang berperan menyesatkan manusia. Pengertiannya bukan berarti bahwa setan-setan dari jenis manusia termasuk dari kalangan mereka. Memang tidak diragukan lagi, hal ini jelas tersimpul dari perkataan Ikrimah. Mengenai perkataan AsSaddi, bukanlah seperti yang dimaksud dalam pengertian ini, tetapi hanya mempunyai kemiripan. Ibnu Abu Hatim meriwayatkan hal yang semisal dari Ibnu Abbas melalui riwayat Ad Dahhak, dari ibnu Abbas yang mengatakan, "Sesungguhnya dari jenis jin terdapat setan-setan yang menyesatkan sejenisnya, sebagaimana setan-setan dari jenis manusia menyesatkan sesamanya." Kemudian Ibnu Abbas mengatakan, "Lalu keduanya (yakni setan dari jenis manusia dan setan dari jenis jin) bersua dan mengatakan kepada pihak lainnya, 'Saya telah menyesalkannya dengan cara anu dan anu'."
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.(31:33)
Jalalain: godaan yang membujuk
Ibnu Katsir: yang dimaksud al-gharur di sini adakah syaithan karena dia memperdaya anak Adam, memberinya janji-janji dan harapan hampa. Ini sejalan dengan firman Allah dalam An Nisa:120.
Hai manusia, Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.(35:5)
Jalalain: pandai menipu atau tipu muslihat
Ibnu Katsir: Jangan sampai syaithan membuatmua tergoda dengan tipudayanya, jangan terlena oleh kembang dunia yang fana sehingga melupakan kehidupan abadi yang menyengnagkan lagi kekal, jangan sampai tipu daya itu memalingkan kamu dari mengikuti para Rasul Allah dan membenarkan kalimat-kalimat-Nya. Sesunguhnya syaithan hanya mengajak kepada kesesatan dan menuju neraka.
"Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: "Bukankah Kami dahulu bersama-sama dengan kamu?" mereka menjawab: "Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran Kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang Amat penipu.(57:14)
Jalalain: penipuan ulung/lihai
Ibnu Katsir: Orang-murang munafik telah mencelakakan diri dengan berbagai kelezatan, maksiat, dan syahwat, serta menunda-nuda tobat dari waktu ke waktu dan menungg-nunggu hancurnya kebenaran dan para pengikutnya. Orang munafik juga membuat keragu-raguan terhadap hari berbangkit setelah kematian serta menimpu dengan angan-angan kosong dunia sampai datang ketetatapn Allah, yakni sampai kematian datang menjemput. Dan kamu tertipu oleh syaithan yang merupakan penipu ulung dan licik.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.(3:185)
Ibnu Katsir: kesenangan yang memperdayakan. Bahwa kehidupan duniawi itu merupakan kesenangan sementara yang akan ditinggalkan;tidak lama kemudian, demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, pasti menyurut dan hilang dari pemiliknya. Karena itu, ambillah dari kehidupan ini sebagai sarana untuk taat kepada Allah, jika kalian mampu dan tidak ada kekuatan (untuk melakukan ketaatan) kecuali berkat pertolongan Allah Swt.

AL MAYSIR (PERJUDIAN)
Gharar dalam makna perjudian tersurat dalam empat ayat Al Qur'an. Yakni, menyangkut hukum berjudi: 2:219, 5:90, 5:91, dan tentang kerusakan akibat berjudi: 5:91
"Mereka bertanya kepadamu tentang khamar[136] dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,(2:219) [136] Segala minuman yang memabukkan.
Jalalain: khamar dan judi dilarang karena dosanya lebih besar dari manfaatnya. Keduanya banyak menimbulkan perselisihan, persengketaan, caci-maki, dan kata-kata tidak senonoh.
Ibnu Katsir: segala bentuk judi. Seperti minum khamar, almaisir merupakan perbuatan keji dan termasuk perbuatan syaithan yang hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian, menghalangi dari mengingat Allah dan melalaikan shalat.
"Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (5:90) [434] Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan Apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya Ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masing-masing Yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah. bila mereka hendak melakukan sesuatu Maka mereka meminta supaya juru kunci ka'bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti Apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, Maka undian diulang sekali lagi.
"Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (5:91)
Ibnu Katsir: Allah melarang orang beriman meminum khamar dan berjudi. Ali bin Abi Thalib pernah berkata: catur merupakan judi. Demikian riwayat Ibnu Abi Hatim dari ayahnya. Rasyid bin Sa'ad dan Dhamirah bin Habib: permainan dadu, kemiri dan telur yang suka dilakukan anak-anak juga termasuk judi. Menurut Ibnu Abbad: pada masa jahiliah banyak orang berjudi hingga datang Islam dan Allah melarang perilaku buruk. Dari Buraidah Ibnul Hashib al-Asalami, Rasul bersabda: "barangsiapa bermain dengan dadu maka solah-olah dia mencelupkan tangannya ke daging dan darah babi." Imam Malik meriwayatkan bahwa Rasul SAW bersabda: Barangsiapa bermain dadu maka sesungguhnya dia mendurhaki Allah dan Rasul-Nya. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Rasul bersabda: "Perumpamaan orang yang bermain dadu kemudian dia mengerjakan shalat ialah seperti orang yang berwudhu dengan nanah dan darah babi, kemduian dia mengerjakan shalat." Abdullah bin Umar berkata: keburukan catur merupakan bagian dari dadu. Ali berpendapat catur termasuk judi. Tiga mazhab mengharmkan, Imam Syafii memakruhkan.
TIPU DAYA

"Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.(3:54)
Jalalain: mereka mengatur tipu daya dan Allah membalas tipudaya mereka dengan jalan mengubah muka seseorang hinga mirip Isa, sedang Isa sebenarnya diangkat ke langit. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.
Ibnu Katsir: Dahulu segolongan Bani Israel bermaksud menyerang dan mencelakakan Nabi Isa AS. Mereka mengadu kepada raja bahwa ada laki-laki yang menyesatkan manusia, memalingkan mereka dri menaati kepada raja dan merusak binatang yang digembalakan, dia juga anak pezina sambil menunjuk orangnya. Raja marah dan mengirim pasukan, mengepung rumahnya. Tanpa mereka sadari, Allah mengangkat Nabi Isa dan meyerupakan salah seorang pengepung dengan wajah Isa. Maka, mereka menangkap, menyiksa dan menyalibnya. Inilah bentguk tipu daya Alllah.
"Dan apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat, sesudah (datangnya) bahaya menimpa mereka, tiba-tiba mereka mempunyai tipu daya dalam (menentang) tanda-tanda kekuasaan kami. Katakanlah: "Allah lebih cepat pembalasannya (atas tipu daya itu)". Sesungguhnya malaikat-malaikat Kami menuliskan tipu dayamu.(10:21)
Jalalain: mereka mempunyai tipu daya dalam menentang tanda-tanda Kami dengan mempeolok-olokkanya dan mendustakannya. Katakanlah kedapa mereka, Allah lebih cepat membuat tipu daya sebagai pembalannya dari-Nya.
Ibnu Katsir: di antara tipu daya adalah istidraj yang membuat orang berdosa menduga tidak akan diazab, padahal hanya penangguhan saja. Sesunguhnya para malaikat menuliskan seluruh perbuatan, memperhitungkan dan melaporkan kepada Yang Maha Mengetahui. Allah pasti membalas segala perbuatan, yang besar maupun yang sepele. Jika Allah berkehendak azab bisa muncul tiba-tiba, tanpa terduga.
"Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. 16. Dan akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya. (86:15-16).
Jalalain: merencanakan tipudaya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Yaitu mereka melakukan tipu daya yang jahat terhadap Nabi SAW. Aku pun merencanakan pula dengan sebanr-benarnya. Maksudnya Tuhan biarkan mereka bersenang-senang sesuka hatinya, tanpa mereka sadari bahwa hal itu merupakan istidraj dari Tuhan. Kelak mereka akan diazab dengan sepedih-pedihnya. Ibnu Katsir: sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya dengan sebenar-benarnya. Yaitu, sesungguhnya orang-orang kafir itu dengan pendustaan mereka menghalangi dari jalan dan berbuat makar terhadap umat manusia dengan mengajak mereka untuk sama-sama menentang Al Qur'an. Allah membiarkan mereka dalam kesesatan mereka, tujuannya adalah menentukan waktu yang tepat untuk menghukum mereka dari arah yang tidak mereka ketahui.
Sayyid Quthb: sesungguhnya mereka orang kafir --yang diciptakan dari air yang terpancar dari tulang sulbi dan tulang dada-- itu tidak memiliki daya, kekuatan, kekuasaan, kehendak, pengetahuan dan petunjuk. Mereka akan dihidupkan lagiu dan ditampakkan segala rahasia tanpa ada kekauatan dan penolong bagi mereka. Mereka itulah yang merencanakan makar dan tipu daya yang snagat jahat. Sedang Aku, Yang Mencipta, Yang Memberi Hidayah, Yang Menjaga, Yang Maha Segalanya, pati membalas rencana dan makar jahat mereka. Itulah rencana mereka dan inilah rencana Allah.
Ayat-ayat tentang tipu daya dan makar masih banyak lagi. Antara lain terdapat dalam surat 8:30. 12:28, 21:57, 37:98, 77:39, 20:60,69; 40:35, 37, 7:195, 37:28, 17:64, 9:126, 16:127, 15:41, 13:33,42, 12:33,50,52,102, 17:64, 9:126, 16:127, 15:41, 13:33,42, 12:33,50,52,102, 43:79, 4:76, 105:2, 52:46.

GHARAR MENURUT FIQIH
Menurut bahasa Arab, makna al-gharar adalah al-khathr (pertaruhan) [1] dan al-khida` (penipuan), suatu tindakan yang didalamnya diperkirakan tidak ada unsur kerelaan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, al-gharar adalah yang tidak jelas hasilnya (majhul al-’aqibah).
Imam Safi`e dalam kitab Qalyubi wa Umairah : Al-ghararu manthawwats `annaa `aaqibatuhu awmaataroddada baina amroini aghlabuhuma wa akhwafuhumaa. Artinya: “gharar itu adalah apa-apa yang akibatnya tersembunyi dalam pandangan kita dan akibat yang paling mungkin muncul adalah yang paling kita takuti”
Syaikh As-Sa’di, al-gharar adalah al-mukhatharah (pertaruhan) dan al-jahalah (ketidak jelasan). Perihal ini masuk dalam kategori perjudian.
Wahbah al-Zuhaili memberi pengertian tentang gharar sebagai al-khatar dan altaghrir, yang artinya penampilan yang menimbulkan kerusakan (harta) atau sesuatu yang tampaknya menyenangkan tetapi hakekatnya menimbulkan kebencian, oleh karena itu dikatakan: al-dunya mata`ul ghuruur artinya dunia itu adalah kesenangan yang menipu.
Dr.M. Anwar Ibrahim mengatakan bahwa para ahli fiqih hampir dikatakan sepakat mengenai definisi gharar, yaitu untung-untungan yang sama kuat antara ada dan tidak ada, atau sesuatu yang mungkin terwujud dan mungkin tidak terwujud, seperti jual beli burung yang masih terbang bebas di udara. Wahbah al-Zuhaili mengutip beberapa pengertian gharar dari para fuqaha yang maknanya hampir sama:
1. Al-Syarkasi dari mazhab Hanafi berpendapat, al-gharar ma yakun masnur al-aqibah ,artinya: “sesuatu yang tersembunyi akibatnya”.
2. Al-Qarafi dari Mazhab Maliki berpendapat: ashlu al-gharar huwa al- ladzi la yudra hal tahshul am laka al-thair fil al hawa` wa al-samak fi al-ma` artinya: “sesuatu yang tidak diketahui apakah ia akan diperoleh atau tidak seperti burung di udara, dan ikan di air”.
3. Al-Syirazi dari mazhab Syafi`i berpendapat, al-gharar ma intawa `anhamruh wa khafiy alaih `aqibatuh, artinya : “sesuatu yang urusannya tidak diketahui dan tersembunyi akibatnya”
4. Ibn Taimiyah, berpendapat gharar ialah tidak diketahui akibatnya.
5. Ibn Qoyyim berpendapat gharar ialah yang tidak bisa diukur penerimaanya, baik barang itu ada maupun tidak ada, seperti menjual hamba yang melarikan diri dan unta yang liar meskipun ada.
6. Ibn Hazm berpendapat, gharar itu ketika pembeli tidak tahu apa yang dibeli, atau penjual tidak tahu apa yang ia jual.
Gharar dari segi fiqih berarti penipuan, ketidakjelasan, dan tidak mengetahui barang yang diperjualbelikan dan tidak dapat diserahkan, juga terkandung ketidakrelaan.
Menurut Abdurrahman As-Sa'di dalam kitab Fiqh Al Bay wa Asy Syira, termasuk jual beli gharar bila seorang penjual menipu saudara sesama muslim dengan cara m,enjual kepadanya barang dagangan yang di dalamnya terdapat cacat. Penjuual mengetahui adanya acat, tetapi tidak memberitahukan kepada pembeli. Cara jual beli sepeti ini tidak dibolehkan karena mengandung penipuan, pemalsuan dan pengkhianatan.
Dengan demikian, dapat diambil pengertian, gharar adalah semua jual beli yang mengandung ketidakjelasan, penipuan, pertaruhan, atau perjudian.
Gharar terjadi apabila, kedua belah pihak (misalnya: peserta asuransi, pemegang polis dan perusahaan) saling tidak mengetahui apa yang akan terjadi, kapan musibah akan menimpa, apakah minggu depan, tahun depan, dan sebagainya. Ini adalah suatu kontrak yang dibuat berasaskan andaian (ihtimal) semata. Islam melarang gharar agar kedua belah pihak tidak didzalimi atau terdzalimi.
GHARAR DALAM MLM
Menurut Mohammad Hashim Kamali, gharar bisa dibagi tiga macam. Pertama, Gharar Al Katsir, yaitu gharar dlam jumlah atau kuantitas yang banyak, hukumnya dilarang karena merusak transaksi. Ini sesuai ijma. Contohnya, menjual ikan yang masih dalam air, burung yang masih terbang di udara.
Ibnu Rusyd menjelaskan bahwa gharar al katsir pada awalnya terdapat pada kecurangan dan pengurangan informasi tentang sifat dan barang yang diperjualbelikan; keraguan aklan adanya, keraguan dalam kuantitasnya, informasi harga yang tidak wajar dlam bentuk pembayaran. Gaharar juga terkait waktu pembayaran dan penyerahan barang yang telah disepakati.
Kedua, Gharar Al Yasir yaitu gharar ringan dalam jumlah atau kuantitas sedikit. Ijma membolehkannya. Contoh, seperti menjual rumah termasuk fondasinya yang tidak nampak.
Ketiga, Gharar Al Mutawassit, yaitu gaharar yang jumlah atau kuantitasnya pertengahan. Hukumnya masih diperbincangkan. Ada yang membolehkan, ada yang melarang. Ukuran untuk mengetahui banyak atau sedikit dikembalikan pada kebiasaan.
Ulama kotemporter seperti Al-Zarqa membedakan gharar ke dalam dua macam. Gharar qauli (berdasarkan perkataan) dan gharar fi'li (berdasarkan perbuatan).
Sementara itu, Al Sanhuri menjelaskan bahwa terdapat pada kondisi: (1) barang belum ada; (2) penjual tidak dapat menyerahkan barang; (3) penjualan dilakukan dengan cara menipu untuk menarik minat pembeli; (4) kontrak transaksi tidak jelas sehingga bisa menggiring pembeli terjebak dalam praktik penipuan. Beberapa bentuk penipuan yang mungkin terjadi: (a) penipuan dalam kuantitas barang dan jasa; (b) penipuan dari segi kualitas barang dan jasa; (c) penipuan dari sisi harga barang dan jasa; dan (d) penipuan dari waktu penyerahan barang dan jasa.
Contoh bisnis MLM yang sudah dinyatakan terlarang karena mengandung gharar dan perjudian adalah Gee Cosmos. Qisar, Alam Raya, New Era 21, BMA, Solusi Centre, dan PT BUS.
Jual beli gharar yaitu jual beli yang belum jelas barangnya, jual beli mengandung resiko dan membawa mudharat karena mendorong seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Sementara dibalik itu justru membahayakannya. Setiap jual beli yang masih belum jelas barangnya atau tidak berada dalam kuasanya alias di luar jangkauan termasuk jual beli gharar. Misalnya, membeli burung di udara atau ikan dalam air, atau budak yang sedang melarikan diri, atau unta yang hilang, atau janin yang masih dalam kandungan atau sejenisnya. Semua itu fasid (tidak sah) karena barang yang dibeli belum jelas dan tidak bisa diserahkan kepada si pembeli.
Termasuk jual beli gharar adalah menjual tanah tambang atau tanah yang mengandung logam mulia. Jual beli seperti ini tidak boleh, karena maksudnya adalah menjual emas atau logam mulia yang terkandung dalam tanah itu, dan itu masih belum jelas, (Syarhus Sunnah [VIII/132]).
Termasuk jual beli gharar dan akad yang majhul (tidak diketahui) dan merugikan (tidak jelas) adalah bentuk jual beli yang dikenal dengan sebutan asuransi dengan berbagai bentuk, jenis dan namanya. Para ulama masa kini telah sepakat mengharamkannya dan tidak saya ketahui seorang pun yang menyelisihinya kecuali apa yang ditulis oleh Dr. Mushtafa az-Zarqa yang mana tulisannya tersebut membuat gembira badan-badan asuransi, sehingga mereka mencetaknya, membagi-bagikannya dan mengajak masyarakat kepadanya. Namun, kebenaran berlepas diri dari mereka.

KRITERIA MENILAI MLM
IFANCA (The Islamic Food and Nutrition of America) telah mengeluarkan edaran tentang produk MLM halal dan dibenarkan oleh agama. Dalam edarannya IFANCA mengingatkan umat Islam untuk meneliti dahulu kehalalan suatu bisnis MLM sebelum bergabung ataupun menggunakannya yaitu dengan mengkaji aspek-aspek sebagai berikut:
 Marketing Plan-nya, apakah ada unsur skema piramida atau tidak. Kalau ada unsur piramida yaitu distributor yang lebih duluan masuk selalu diuntungkan dengan mengurangi hak distributor belakangan sehingga merugikan down line di bawahnya, maka hukumnya haram.
 Apakah perusahaan MLM, memiliki track record positif dan baik. Ataukah tiba-tiba muncul dan misterius, apalagi yang banyak kontroversinya.
 Apakah produknya mengandung zat-zat haram ataukah tidak, dan apakah produknya memiliki jaminan untuk dikembalikan atau tidak.
 Apabila perusahaan lebih menekankan aspek targeting penghimpunan dana dan menganggap bahwa produk tidak penting atau hanya sebagai kedok, apalagi uang pendaftarannya cukup besar nilainya, maka patut dicurigai sebagai arisan berantai (money game) yang menyerupai judi.
 Apakah perusahaan MLM menjanjikan kaya mendadak tanpa bekerja ataukah tidak demikian.
 Transparansi penjualan dan pembagian bonus serta komisi penjualan, disamping pembukuan yang menyangkut perpajakan dan perkembangan networking atau jaringan dan level, melalui laporan otomatis secara periodik.
 Penegasan motif dan tujuan bisnis MLM sebagai sarana penjualan langsung produk barang ataupun jasa yang bermanfaat, dan bukan permainan uang.
 Meyakinkan kehalalan produk yang menjadi objek transaksi riil (underlying transaction) dan tidak mendorong kepada kehidupan boros, hedonis, dan membahayakan eksistensi produk muslim maupun lokal.
 Tidak adanya excesive mark up (ghubn fakhisy) atas harga produk yang dijualbelikan di atas covering biaya promosi dan marketing konvensional.
 Harga barang dan bonus (komisi) penjualan diketahui secara jelas sejak awal dan dipastikan kebenarannya saat transaksi.
 Tidak adanya eksploitasi pada jenjang manapun antar distributor ataupun antara produsen dan distributor, terutama dalam pembagian bonus yang merupakan cerminan hasil usaha masing-masing anggota. Sebelum memutuskan seseorang menekuni bisnis MLM, Komisi Fatwa MUI sedniri memberi panduan bahwa bisnis MLM perlu diwaspadai keharamannya bisa mengandung kriteria sebagai berikut:
 Ada harga tidak wajar (jauh lebih tinggi)
 Ada kesamaran antara pemilik, pekerja, penjual dan pembeli
 Ada kekaburan akad jual beli, syirkah, mudharabah
 Status keanggotaan bersyarat (target): gharar
 Uang pendaftaran dan bonus hangus jika tidak tercapai target: zhalim  Menjaring dana masyarakat dengan janji bunga: riba
Untuk lebih memudahkan dalam mengetahui status kehalalan atau kesyariahan perusahaan MLM, dapat diketahui bahwa sampai posisi sekarang ini hanya sedikit bisnis MLM yang dinyatakan aman secara syariah. Perusahaan yang telah terdaftar sebagai MLM syariah dan mendapatkan sertifikat bisnis syariah dari Dewan Syariah Nasional MUI, sekaligus mendapatkan jaminan kesesuaian syariah dalam produk dan kegiatan operasional bisnisnya dari MUI, dan yang diwajibkan memiliki Dewan Pengawas Syariah sejauh ini baru ada tiga perusahaan, yaitu; 1. PT Ahad-Net Internasional, 2. PT Usahajaya Ficooprasional (UFO), 3. PT Exer Indonesia.
LARANGAN GHARAR
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan, jual beli gharar terlarang. Dasar laranganya ditegaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis Rasul. Larangan gharar secara jelas tersirat dalam ayat-ayat yang berisi larangan memakan harta orang dengan batil. Antara lain pada Al Baqarah 188 dan An Nisa 29.
"Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.(2:188)
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu[287]; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.(4:29) [287] Larangan membunuh diri sendiri mencakup juga larangan membunuh orang lain, sebab membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, karena umat merupakan suatu kesatuan.
Pelarangan ini juga dikuatkan dengan pengharaman judi, sebagaimana ada dalam firman Allah pada Surat Al Maidah 90.
“Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Qs. Al-Maidah: 90).
Melalui hadis shahih, Nabi Muhammad SAW juga tegas melarang jual beli Gharar. نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ “Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli al-hashah dan jual beli gharar.” (HR Muslim)
Jual beli hashah adalah jual beli dengan lemparan batu. Bentuknya ada tiga macam, yaitu: Pertama: Pembeli berkata kepada si penjual: Jika aku lempar batu ini berarti jual beli jadi. Kedua: Penjual berkata kepada si pembeli: Jual beli berlaku atas barang yang jatuh padanya lemparan batumu. Ketiga: Pembeli atau penjual berkata: Ukuran tanah yang berlaku dalam jual beli ini berlaku sejauh lemparan batumu. Penjelasan lebih lanjut akan disebutkan dalam bab khusus di buku ini insya Allah.
Berdasarkan dalil-dalil tersebut, dapat disimpulkan, bahwa transaksi jual beli gharar dengan menggunakan sistem MLM hukumnya haram. Alasan-alasannya adalah sebagai berikut :
Alasan Pertama: Di dalam transaksi dengan metode MLM, seorang anggota mempunyai dua kedudukan: Kedudukan pertama, sebagai pembeli produk, karena dia membeli produk secara langsung dari perusahaan atau distributor. Pada setiap pembelian, biasanya dia akan mendapatkan bonus berupa potongan harga. Kedudukan kedua, sebagai makelar, karena selain membeli produk tersebut, dia harus berusaha merekrut anggota baru. Setiap perekrutan dia mendapatkan bonus juga.
Pertanyaannya adalah bagaimana hukum melakukan satu akad dengan menghasilkan dua akad sekaligus, yaitu sebagai pembeli dan makelar? Dalam Islam hal itu dilarang, ini berdasarkan hadist-hadist di bawah ini:
1. Hadits abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ “Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam telah melarang dua pembelian dalam satu pembelian.”( HR Tirmidzi, Nasai dan Ahmad. Berkata Imam Tirmidzi : Hadist Abu Hurairah adalah hadist Hasan Shahih dan bisa menjadi pedoman amal menurut para ulama)
Imam Syafi’i rahimahullah berkata tentang hadist ini, sebagaimana dinukil Imam Tirmidzi, “Yaitu jika seseorang mengatakan, ’Aku menjual rumahku kepadamu dengan harga sekian dengan syarat kamu harus menjual budakmu kepadaku dengan harga sekian. Jika budakmu sudah menjadi milikku berarti rumahku juga menjadi milikmu’.” (Sunan Tirmidzi, Beirut, Dar al Kutub al Ilmiyah, Juz : 3, hlm. 533)
Kesimpulannya bahwa melakukan dua macam akad dalam satu transaksi yang mengikat satu dengan yang lainnya adalah haram berdasarkan hadist di atas.
2. Hadist Abdullah bin Amr, bahwasanya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ وَلَا شَرْطَانِ فِي بَيْعٍ وَلَا رِبْحُ مَا لَمْ تَضْمَنْ وَلَا بَيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ "Tidak halal menjual sesuatu dengan syarat memberikan hutangan, dua syarat dalam satu transaksi, keuntungan menjual sesuatu yang belum engkau jamin, serta menjual sesuatu yang bukan milikmu." (HR. Abu Daud)
Hadits di atas juga menerangkan tentang keharaman melakukan dua transaksi dalam satu akad, seperti melakukan akad utang piutang dan jual beli, satu dengan yang lainnya saling mengikat. Contohnya: Seseorang berkata kepada temannya, “Saya akan jual rumah ini kepadamu dengan syarat kamu meminjamkan mobilmu kepada saya selama satu bulan.” Alasan diharamkan transaksi seperti ini adalah tidak jelasnya harga barang dan menggantungkan suatu transaksi kepada syarat yang belum tentu terjadi. (Al Mubarkufuri, Tuhfadh al Ahwadzi, Beirut, Dar al Kutub al Ilmiyah, Juz : 4, hlm. 358, asy Syaukani, Nailul Author, Riyadh, Dar an Nafais, juz : 5, hlm: 173)
Alasan Kedua: Di dalam MLM terdapat makelar berantai. Sebenarnya makelar (samsarah) dibolehkan di dalam Islam, yaitu transaksi di mana pihak pertama mendapatkan imbalan atas usahanya memasarkan produk dan pertemukannya dengan pembelinya.
Adapun makelar di dalam MLM bukanlah memasarkan produk, tetapi memasarkan komisi. Maka, kita dapatkan setiap anggota MLM memasarkan produk kepada orang yang akan memasarkan dan seterusnya, sehingga terjadilah pemasaran berantai. Dan ini tidak dibolehkan karena akadnya mengandung gharar dan spekulatif.
Alasan Ketiga: Di dalam MLM terdapat unsur perjudian, karena seseorang ketika membeli salah satu produk yang ditawarkan, sebenarnya niatnya bukan karena ingin memanfaatkan atau memakai produk tersebut, tetapi dia membelinya sekedar sebagai sarana untuk mendapatkan point yang nilainya jauh lebih besar dari harga barang tersebut. Sedangkan nilai yang diharapkan tersebut belum tentu ia dapatkan.
Perjudian juga seperti itu, yaitu seseorang menaruh sejumlah uang di meja perjudian, dengan harapan untuk meraup keuntungan yang lebih banyak, padahal keuntungan tersebut belum tentu bisa ia dapatkan. Alasan Keempat: Di dalam MLM banyak terdapat unsur gharar (spekulatif) atau sesuatu yang tidak ada kejelasan yang diharamkan Syariat, karena anggota yang sudah membeli produk tadi, mengharap keuntungan yang lebih banyak. Tetapi dia sendiri tidak mengetahui apakah berhasil mendapatkan keuntungan tersebut atau malah merugi.
Dan Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam sendiri melarang setiap transaksi yang mengandung gharar, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya ia berkata:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ “Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam melarang jual beli dengan cara al-hashah (yaitu: jual beli dengan melempar kerikil) dan cara lain yang mengandung unsur gharar (spekulatif).“ (HR. Muslim, no: 2783) Alasan Kelima: Di dalam MLM terdapat hal-hal yang bertentangan dengan kaidah umum jual beli, sepe
rti kaidah : Al Ghunmu bi al Ghurmi, yang artinya bahwa keuntungan itu sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan atau resiko yang dihadapinya. Di dalam MLM ada pihak-pihak yang paling dirugikan yaitu mereka yang berada di level-level paling bawah, karena merekalah yang sebenarnya bekerja keras untuk merekrut anggota baru, tetapi keuntungannya yang menikmati adalah orang-orang yang berada pada level atas.
Merekalah yang terus menerus mendapatkan keuntungan-keuntungan tanpa bekerja, dan mereka bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Apalagi jika mereka kesulitan untuk melakukan perekrutan, dikarenakan jumlah anggota sudah sangat banyak.
Alasan Keenam: Sebagian ulama mengatakan bahwa transaksi dengan sistem MLM mengandung riba riba fadhl, karena anggotanya membayar sejumlah kecil dari hartanya untuk mendapatkan jumlah yang lebih besar darinya, seakan-akan ia menukar uang dengan uang dengan jumlah yang berbeda. Inilah yang disebut dengan riba fadhl (ada selisih nilai). Begitu juga termasuk dalam kategori riba nasi’ah, karena anggotanya mendapatkan uang penggantinya tidak secara cash
Sementara produk yang dijual oleh perusahaan kepada konsumen tiada lain hanya sebagai sarana untuk barter uang tersebut dan bukan menjadi tujuan anggota, sehingga keberadaannya tidak berpengaruh dalam hukum transaksi ini.
Keharaman jual beli dengan sistem MLM ini, sebenarnya sudah difatwakan oleh sejumlah ulama di Timur Tengah, diantaranya adalah Fatwa Majma’ Al-Fiqh Al-Islamy Sudan yang dikeluarkan pada tanggal 17 Rabi’ul Akhir 1424 H, bertepatan dengan tanggal 17 Juni 2003 M pada majelis no. 3/24. Kemudian dikuatkan dengan Fatwa Lajnah Daimah Arab Saudi pada tanggal 14/3/1425 dengan nomor (22935). MUI sendiri masih terus mengkaji status hukum MLM secara komprehensif. Meski begoitu, komisi fatwa telah menyerukan untuk berhati-hati dalam memilih bisnis MLM, terutama untuk MLM jasa layanan. Sebagian anggota komisi fatwa bahkan sudah ada yang mengharamkan MLM untuk layanan perjalanan haji dan umrah.

DAFTAR PUSTAKA
Al Mahali, Jalaluddin & As-Suyuthi, Jalaluddin. (2003) Tafsir Jalalain.(9th Ed). Bahrun Abubakar (Trans). Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Al Maraghi, Ahmad Musthafa. (1993). Tafsir Al Maraghi. (2nd Ed). Bahrum Abubakar & Hery Noer Aly (Trans). Semarang: Karya Thoha Putra.
Al Zarqa, Musthafa. (2003). Al Madkhal al fiqh al'am. Beirut: Dar Al Fikr. Amalia, Euis. (2010). Sejarah pemikiran ekonomi Islam: dari masa klasik hingga kontemporer. (p.258). Depok: Gramata.
Ar Rifa'i, M. Nasib. (2002). Ringkasan tafsir ibnu Katsir. (5th Ed). Jakarta; Gema Insani Press.
Al Saati, Abdul Rahim.(2003). The permissible gharar (risk) in classical islamic jurispruden-ce. J.KAU: Islamic Econ., Vol. 16, No. 2, pp. 3-19. Jeddah: Department of Economics,Facul-ty of Economics and Administration King Abdul Aziz University, Jeddah, Saudi Arabia.
As Sa'di, Abdurrahman; Bin Baaz, Abdul Aziz; Al-Utsamin, Shalih; & Al Fauzan, Shalih. (2008). Fiqih Jual Beli. (1st Ed). Abdullah & Okke Nurtama (Trans). Jakarta: Senayan Publishing.
Kamali, Mohammad Hasyim. (2002). Islamic commercial law and analysis of future and option. Kuala Lumpur: Petaling Jaya.
Qardhawi, Yusuf. (1995). Peran nilai dan moral dalam perekonomian Islam. [Didin Hafidhuddin, Setiawan Budiutomo, & Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Trans] p.367. Jakarta: Rabbani Press.
Quthb, Sayyid. (2003). Tafsir fi zhilalil Qur'an. (1st Ed). Auni Rafif Shaleh Tamhid (Trans). Jakarta: Rabbani Press.
Shaikh, Salman. (2010). Ethical crisis in capitalism: filling the ethical void with islamic economic teachings in economic practices. http://www.islamicecono-mics.jigsy.com/capitalism.
Utomo, Setiawan Budi . (Mei 3, 2009). Hukum bisnis MLM dan money game. Http://www.dakwa-tuna.com/2006/bisnis-dengan-sistem-mlm/

Comments

Popular posts from this blog

Wakalah, Hiwalah dan Kafalahah, Hiwalah dan Kafalah

Indikator Keberhasilan Pembangunan Dalam Perspektif Islam

Magnet Bumi Berubah: Kelak, Matahari Terbit dari Barat!