Pangan Berlemak Meningkatkan Risiko Kanker Usus

Oleh Dedi Junaedi
Wartawan Majalah Sains Indonesia dan Dosen Ekonomi dan Keuangan Syariah INAIS Bogor

Riset terbaru dari MIT menyingkap hubungan antara menu makanan dengan perubahan stem cell saluran pencernaan. Riset ini juga menengarai konsumsi lemak tinggi dapat meningkatkan risiko kanker usus.

Lebih dari puluhan tahun, kajian riset menemukan bahwa obesitas dan konsumsi pangan berlemak tinggi, dan menu berkalori tinggi adalah faktor risiko yang signifikans dalam pembentukan aneka tipe kanker. Kini, sebuah studi dari MIT menguatkan bagaimana menu lemak tinggi dapat membuat sel-sel punca dalam saluran pencernaan dapat mengalami transformasi menjadi sel kanker.

Riset tersebut menggunakan tikus percobaan yang diberi menu pakan berlemak tinggi. Pola pakan ini ternyata memacu ledakan stem cells pada saluran pencernaan yang berubah karakternya dan membangkitkan sekumpulan sel lain yang berperilaku seperti sel punca, mampu mereproduksi sendiri kelompoknya dan kemudin berdiferensiasi menjadi sel-sel abnormal alias alias kanker. Kedua kelompok, sel punca dan homolognya, berdampak meningkatkan risiko berjangkitnya kanker usus, jelas Omer Yilmaz, ahli biologi molekuler yang memimpin riset di MIT.

“Menu lemak tinggi tak hanya mengubah biologi sel punca (stem cells), tetapi juga mengubah populasi non stem-cell, yang secara kolektif meningkatkan peluang pembentukan tumor,” ungkap ahli penyakit dalam di Massachusetts General Hospital dan anggota Koch Institute for Integrative Cancer Research MIT.

“Dalam kondisi menu lemak tinggi, sel-sel yang bukan termasuk stem cells berubah perliakunya seperti sel-sel punca yang kemudian bertrasnformasi menjadi karsinogenik,” kata David Sabatini, gurubesar biologi MIT dan anggota Whitehead Institute. Dia juga termasuk periset investigator di Howard Hughes Medical Institute.

Sabatini dan Yilmaz sebelumnya berkolaborasi dalam riset tentang dampak pembatasan kalori pada stem cell di saluran pencernaan. Hasil kajian mereka muncul dalam jurnal ilmiah Nature yang terbit awal Maret 2016. Dalam riset terakhir, keduanya juga bermitra dengan Semir Beyaz, mahasiswa doktoral Harvard University dan bekerja di Koch Institute dan Dana-Farber/Boston Children’s Cancer and Blood Disorders Center; serta Miyeko Mana, mahasiswa postdoc MIT, dan Jatin Roper, internis dari Tufts Medical Center.
Meningkatkan Risiko Kanker

Beberapa kajian riset sebelumnya telah mengungkap bahwa orang gemuk atau obesitas punya risiko mengidap kanker usus yang lebih tinggi. Tim Lab Yilmaz, yang mengkaji hubungan antara menu makan dan kanker, berusaha menguak rahasia hingga level mekanisme seluler bagaimana risiko kanker usus dapat meningkat karena faktor menu makanan.

“Kami ingin memahami bagaimana seberapa besar menu lemak tinggi itu berpengaruh terhadap perilaku biologi dari stem cells, serta hendak mengungkap bagaimana menu makanan menginduksi sel-sel punca homolog yang kemudian berdampak pada tumbunya tumor di saluran pencernaan,” tambah Yilmaz.

Hasil studi belakangan menunjukkan bahwa stem cells usus, yang bertahan hidup, umumnya menyebabkan akumulasi mutasi yang meningkatkan risiko kanker usus. Sel-sel punca ini hidup dalam epithelium saluran pencernaan, dan men-generate aneka tipe sel berbeda yang membentuk epithelium.
Melacak kemungkinan hubungan antara stem cells dan kanker yang terkait obesitas, Yilmaz dan koleganya memberi pakan tikus-tikus sehat dengan pakan berkadar lemak 60% selama sembilan hingga 12 bulan. Pakan tersebut, kata Yilmaz, punya kadar lemak lebih tinggi dari dier tipikal orang Amerika, yang biasanya mengandung 20-40% lemak.

Selama periode itu, tikus-tikus percobaan yang mendapat asupan lemak tinggi bertambah bobotnya 30-50% lebih tinggi dari tikus dengan diet normal. Selain itu, mereka juga mengidap tumor di ususnya. Pelungnya lebih tinggi dari tikus dengan menu pakan normal.

Hasil riset menunjukkan, sel-se punca pada usus tikus-tikus yang biasa mengkonsumsi lemak tinggi menunjukkan perlikau yang berbeda dari kondisi normalnya. Pertama, mereka menemukan tikus dengan pakan lemak tinggi punya sel punca usus lebih banhak dari tikus dengan diet normal. Sel-sel punca tersebut juga bisa berkembang tanpa inpur dari sel tetangganya.

Secara normal, stem cells usus dikelilingi oleh sel pendukungnya atau sel-sel unik yang mengatur aktivitasnyal dan mengatakan padanya ketika membangkitkan sel punca atau sel-sel yan berbeda lainnya. Bagaimana pun, stem cells dari tikus dengan pakan lemak tinggi lebih mampu berfungsi sendiri. Mereka dapat tumbuh dalam culture dish tanpa sel-sel pendukungnya. Kondisi ini yang meningkatkan risiko terbentuknya kanker usus.
“Stem cells yang terbentuk lebih banyak dan lebih dapat beroperasi secara indipenden karena input bisa datang dari limgkungan mikronya,” tegasYilmaz.

Gejala Hiperakif Sel Punca

Para peneliti juga menemukan fakta bahwa populasi lain yang dikenal sebagai progenitor cells — sel-sel anak yang terdifferensiasi dari sel punca atau — yang berperilaku seperti stem cells. Mereka mulai hidup lebih lama dari biasanya, sekitar beberapa hari, dan mereka juga membangkitkan saluran mini ketika tumbuh di luar badannya.

“Ini betul-betul penting karena stem cells di saluran pencernaan sering bermutasi sehingga meningkatkan risiko pembentukan tumor usus,” ungkap Yilmaz. Repotnya, tambah dia, yang bermutasi tak hanya sel-sel punca, tetapi juga sel-sel non punca. Ini yang meningkatkan laju pembentukan tumor usus.’’

Para peneliti juga mengidentifikasi adanya gejala hiperaktif sel yang terpicu oleh pakan lemak tinggi. Sensor asam lemak yang dikenal sebagai PPAR-delta merespon tingginya kadar lemak melalui proses metabolisme internal yang memungkinkan sel-sel membakar lemak sebagai sumber energi seperti halnya gula dan karbohidrat.

“Adanya molekul antagonis PPAR-delta membuat tikus dengan diet normal juga berpotensi mengidap gejala serupa tikus dengan pakan lemak tinggi, tambah Sabatini.

Aksinya dalam memacu metabolism sel, membuat PPAR-delta juga memacu perubahan gen yang penting untuk identifikasi stem cell, kata Yilmaz. Labnya kini melakukan riset investigasi lanjutan untuk mengungkap bagaimana ini menimbulkan harapan untuk identifikasi obat kanker yang terbentuk karena obesitas.,

Gokhan Hotamisligil, Direktur Sabri Ulker Center for Nutrient, Genetic, and Metabolic Research di Harvard School of Public Health, yakin studi tersebut menawarkan penjelasan yang menarik tentang mekanisme pengaruh diet lemak tinggi terhadap pembentukan kanker. Dari sini juga diharapkan akan muncul teknik baru mencegah ataupun terafi kanker yang efektif dan efisien.

“Meski masalahnya sangat besar, sedikit harapan kini terbuka,” kata Hotamisligil. Begitulah, studi ini menambah sudut pandang khusus dari perspektif stem cell dan perubahan perilaku sel pro karsinogenik dalam lingkungan yang berubah.

Comments

Popular posts from this blog

Wakalah, Hiwalah dan Kafalahah, Hiwalah dan Kafalah

Indikator Keberhasilan Pembangunan Dalam Perspektif Islam

Magnet Bumi Berubah: Kelak, Matahari Terbit dari Barat!