Solusi Permanen Mengatasi Krisis Rupiah

Oleh Dedi Junaedi
Alumni Ekonomi & Keuangan Syariah Pascasarjana UI & Dosen STAIT Modern Sahid Bogor dan Unisa Kuningan (Terpublikasi di Majalah Gontor edisi April 2015)

Allah (akan) memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.(QS 2:276)

Dalam beberapa bulan terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar terus merosot. Memasuki Maret 2015, nilainya sudah melampaui angka kritis 13.000 per dolar. Sejatinya, ini nilai terendah sejak krisis moneter/ekonomi 1998. Tak aneh, dunia usaha resah, praktisi bisnis galau. Beberapa pengamat pun mulai gelisah. Sementara otoritas moneter dan fiskal (Bank Indonesia dan Pemerintah RI) awalnya berupaya tampak tenang-tenang saja.
Presiden Jokowi sendiri, sebagaimana dikutip sejumlah media, berkomentar ringan: ‘’Saya lihat Gubernur BI masih tenang. Jadi saya juga tenang-tenang saja.’’ Pernyataan ‘tampak tenang’ itu tak direspon pasar. Rupiah terus melemah hingga sempat menyentuh 13.500 per dolar. Akhirnya, pemerintah rapat serius mencari solusi. Hasilnya, beberapa paket kebijakan pun diluncurkan menjelang pertengahan Maret. Antara lain: memberi insentif (diskon) pajak pada industri tertentu, meningkatkan rasio penggunaan bahan bakar nabati (BBN), kebijakan anti dumping dan inpres pembebasan visa turis sejumlah negara.
Tetapi, para pengamat ekonomi menilai, paket kebijakan stabilisasi perekonomian nasional itu tidak akan efektif dan efisien. Menurut mereka, paket-paket itu membutuhkan waktu jangka menengah dan panjang untuk merealisasikannya. Yang diperlukan adalah solusi segera karena krisis rupish sudah di depan mata. Mereka menyarankan, BI harus mengubah cara menghadapi pelemahan rupiah. BI pun diminta menggelontorkan dana (dolar) ke pasar untuk menstabilkan rupiah.
Masalahnya, seberapa besar dana yang dibutuhkan untuk meredam gejolak dpresiasi rupiah? Apakah negara ini cukup punya kemampuan riil? Padahal, kita tahu, cadangan devisa peninggalan Pemerintahan SBY-Budiono yang sebenarnya cukup besar itu telah digerogoti. Fundamental ekonomi kita yang sempat dipuji dan dibanggakan beberapa pihak dalam dan luar pun sudah mulai tampak keropos. Sekadar mengingatkan, krisis utang yang melanda Eropa tahun 2012 telah menelan dana lebih dari 500 milyar dolar. Itu pun ternyata belum menyelesaikan masalah.
Apakah depresiasi rupiah sudah membahayakan dan berpotensi memicu krisis? Bisakah krisis moneter dan ekonomi seperti 1998 ketika rupiah jatuh bebas dari 3000-an hingga ke level hampir 20.000 per dolar? Semua tentu berharap krisis seperti itu tak lagi terjadi. Tetapi, sebaiknya semua pihak bersiap untuk kemungkinan terburuk. BI mencatat dalam depresiasi rupiah terhadap dolar sepanjang 2015, selama dua bulan, mencapai 6%. Gubernur BI masih menilai wajar karena faktor penguatan dolar AS, terkait rencana kenaikan suku bunga di AS. The Fed, Bank Sentral AS, konon akan menaikkan suku bunga 50-100 basis poin pada Juni-Juli 2015 dari semula 0,25% menjadi 0,75-1,25%. Rencana peningkatan suku bunga itu akan berlanjut sampai 2016 hinga mencapai 2,5%.
Pelemahan 6% per dua bulan, sejatinya sudah tak wajar. Bahkan bisa dianggap luar biasa. Bayangkan, jika pelemahan berlanjut terus sampai setahun (36%) atau bahkan dua tahun (72%). Memang, angka-angka ini sifatnya masih prediksi peluang terburuk yang mungkin terjadi. Tapi, mari kita tengok ke belakang, kepada realitas yang sudah terjadi. Faktanya, dalam tiga tahun (2012-2015) rupiah sudah terdepresiasi sekitar 50% dari kisaran 9.000-an pada tahun 2012 dan 13.000-an pada tahun 2015. Maka, secara akumulatif, jika tren pelemahan rupiah berlanjut dengan laju yang sama, maka laju depresiasinya sudah akan menyentuh angka 86%. Tentu, ini bukan fenomena biasa-biasa saja. Angka ini terlalu besar untuk dianggap biasa.
Oleh karena sudah fenomenal, maka solusi yang diperlukan tentu harus luar biasa pula. Sejatinya, kalau mau jujur, berbagai krisis moneter dan ekonomi terus terjadi secara berulang karena manusia tidak mau membuat solusi permanen. Yakni langkah penyelesaian masalah langsung dari akarnya. Krisis keuangan/ekonomi yang telah menimpa banyak negara sebenarnya berawal dari sistem keuangan dan ekonomi yang berbasis riba. Segala macam utang, kredit pembiayaan, dan pendanaan anggaran berpangkal pada praktik bunga bank atau riba dalam segala bentuknya. Pada saat yang sama, fungsi uang sudah bergeser dari karakter alamiahnya. Mata uang, yang semestinya hanya berfungsi sebagai penyimpan nilai dan alat tukar perdagangan, sedah berpuluh bahkan beratus tahun suda menjadi komoditas biasa, layaknya barang dagangan.
Teorinya menyatakan depresiasi mata uang terjadi karena inflasi. Rumus dasarnya, inflasi = suku bunga nominal – suku bunga ril. Secara empiris, BI pernah melakukan riset yang menyimpulkan: dua per tiga penyebab inflasi adalah suku bunga. Maknanya, secara sederhana, untuk menekan inflasi harus menekan suku bunga. Untuk meredam inflasi, kita harus hilangkan suku bunga. Maka, untuk mencegah krisis solusinya hanya dua. Pertama, hindari praktik riba dalam sistem keuangan dan aktivitas ekonomi. Kedua, kembalikan fungsi rupiah ke awalnya. Tinggalkan segala bentuk dan praktik perdagangan uang. Agar selamat, saatnya Indonesia meninggalkan sistem ekonomi ribawi. Mulailah kita berpaling kepada sistem ekonomi yang meniadakan riba, mencegah spekulasi (maysir), menghindari ketidakpastian (gharar), dan menghindari segala tindak kedzaliman.

Comments

Popular posts from this blog

Wakalah, Hiwalah dan Kafalahah, Hiwalah dan Kafalah

Indikator Keberhasilan Pembangunan Dalam Perspektif Islam

Analisis Kualitas Pelayanan Lembaga Amil Zakat Terhadap Loyalitas Muzaki di Jabotabek