Posts

Showing posts from January, 2017

Mencegah Tua atau Kembali Muda, Mungkinkah?

Image
Oleh Dedi Junaedi
Wartawan dan Dosen INAIS Bogor
Mencegah proses penuaan atau kembali menjadi muda adalah harapan banyak orang. Secara teori, ini juga masuk akal dengan mengendalikan gen ‘pemarka’ penuaan. Tetapi, mungkinkah itu dapat diwujudkan secara empiris. Lantas, bagaimana sains dapat menjelaskannya?
Penelitian baru menunjukkan adalah mungkin untuk memperlambat proses penuaan. Atau bahkan membalikkan penuaan menjadi peremajaan. Setidaknya indikasi ini terjadi pada tikus percobaan. Majalah Scientific American (Desember 2016) melaporkan, tim peneliti Salk Institute for Biological Studies (SIBS) di California, AS, dapat mengendalikan proses penuaan pada tikus percobaan.
Dengan mengutak-atik gen marker penuaan, tim SIBS dapat mengubah sel dewasa kembali menjadi sel remaja (embryoniclike). Merka dapat mempercepat, memperlambat, atau membalikkan proses penuaan pada tikus. Teknik ini dapat diterapkan untuk pemulihan tikus yang cedera. Secara in vitro, tim in I juga sedang mencoba hal …

Sel Sintetis: Pengaman Sirkuit Genetik

Image
Oleh Dedi Junaedi
Dosen INAIS Bogor dan redaktur majalah Sains Indonesia
Terapi gen dipercaya akan menjadi solusi masa depan yang andal. Tak hanya untuk mengatasi masalah penyakit dan kesehatan, rekayasa genetik juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan aneka benih dan bibit unggul untuk menjawab masalah penyediaan pangan dan energi masa depan.

Untuk itu, satu terobosan telah dirintis tim perekayasa MIT (Massachussets Institute of Technology). Menjelang akhir tahun 2016, mereka berhasil mengembangkan teknik pembuatan sirkuit genetik untuk mendukung aplikasi terapi gen yang efektif dan aman. Bahkan, para insinyur dari univesitas top di AS itu telah pula mengembangkan cara mengisolasi sirkuit genetik dalam sebuah sel sintetik.

Sebelumnya, ada kekhawatiran di kalangan ilmuwan. Mengingat sirkuit genetik terusun atas sejumlah komponen genetik aktif, terbuka kemungkinan adanya interaksi antar komponen yang saling mempengaruhi atau dapat mengganggu satu sama lain. Maka, isolasi, terhada…

Lima dari Sembilan Spesies Hiu Berjalan Ada di Indonesia

Image
Semua ikan hiu pasti bisa berenang, tetapi hanya beberapa spesies saja yang bisa berjalan sehingga sering disebut “Hiu Berjalan” (walking shark). Disebut sebagai Hiu Berjalan karena gerakannya di dasar laut yang menggunakan sirip -siripnya untuk bergerak seperti melata atau berjalan, utamanya di perairan dangkal dan umumnya bisa dilihat pada malam hari. Kelompok Hiu Berjalan secara taksonomi sering disebut dengan Hiu bambu (bamboo shark) dan termasuk dalam Genus Hemiscyllium.

Perairan Indonesia yang tinggi keragaman hayati lautnya ini ternyata merupakan habitat Hiu Berjalan. Lima dari sembilan spesies sudah berhasil ditemukan dan diidentifikasi berada di perairan Indonesia. Empat spesies endemik atau hanya ada di Indonesia antara lain adalah Hiu Berjalan Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti), Hiu Berjalan Teluk Cendrawasih (H. galei), Hiu Berjalan Halmahera (H. halmahera), dan Hiu Berjalan Teluk Triton Kaimana (H. henryi). Satu spesies lainnya yaitu H.trispeculare ditemukan di p…

2030, Jakarta (Bisa) Tenggelam!

Image
Oleh Dedi Junaedi

Jakarta akan tenggelam pada 2030. Saya, Anda, dan kita semua tentu saja kaget mendengarnya. Tapi, benarkah prediksi ini? Begitulah informasi dan analisis yang berkembang.

Tak kurang dari Presiden Jokowi sendiri yang mengungkapkannya. Dalam forum resmi, Rapat Kabinet Terbatas di Istana Negara Jakarta pada Rabu terakhir April 2016, Presiden RI ke-7 ini menyampaikan bahwa akibat penurunan permukaan tanah dan naiknya muka laut, Jakarta diperkirakan akan tenggelam tahun 2030.

Ihwal ramalan Jakarta akan tenggelam memang banyak versinya. Mulai dari mitos ramalan Jayabaya hingga prediksi berdasarkan analisis ilmiah yang disampaikan kalangan peneliti dan akademisi. Jayabaya konon meramal bahwa Jawa, termasuk Jakarta di dalamnya, akan tenggelam 100 tahun setelah perang dunia.

Skenario 2050
Sementara itu, menurut analisis ilmiah, kalangan akademisi ada perbedaan mengenai tenggat waktunya. Oktober 2014, Chairul Tandjung (saat itu Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Bersat…