2030, Jakarta (Bisa) Tenggelam!

Oleh Dedi Junaedi

Jakarta akan tenggelam pada 2030. Saya, Anda, dan kita semua tentu saja kaget mendengarnya. Tapi, benarkah prediksi ini? Begitulah informasi dan analisis yang berkembang.

Tak kurang dari Presiden Jokowi sendiri yang mengungkapkannya. Dalam forum resmi, Rapat Kabinet Terbatas di Istana Negara Jakarta pada Rabu terakhir April 2016, Presiden RI ke-7 ini menyampaikan bahwa akibat penurunan permukaan tanah dan naiknya muka laut, Jakarta diperkirakan akan tenggelam tahun 2030.

Ihwal ramalan Jakarta akan tenggelam memang banyak versinya. Mulai dari mitos ramalan Jayabaya hingga prediksi berdasarkan analisis ilmiah yang disampaikan kalangan peneliti dan akademisi. Jayabaya konon meramal bahwa Jawa, termasuk Jakarta di dalamnya, akan tenggelam 100 tahun setelah perang dunia.

Skenario 2050
Sementara itu, menurut analisis ilmiah, kalangan akademisi ada perbedaan mengenai tenggat waktunya. Oktober 2014, Chairul Tandjung (saat itu Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu II era Pemerintahan SBY-Budiono), pernah mengungkapkan perkiraan bahwa Jakarta akan tenggelan tahun 2050. Dia memakai analisis dari Tim Teknik Lingkungan UI.

Menurut Firdaus Ali, akademisi teknik lingkungan UI, permukaan tanah di Jakarta terus menurun tanpa bisa dikendalikan. Setiap tahun, permukaan tanah wilayah Jakarta menurun antara 18-26 cm. Pada saat yang sama, permukaan air laut Jakarta juga naik sebesar 5 sampai 8 mm per tahun akibat pemanasan global.

Dari data itu, Firdaus Ali menghitung, dalam skenario pesimistis, pada 2050, kawasan Semanggi diprediksi akan menjadi bibir pantai Jakarta. Sementara, menurut skenario optimistis, bibir pantai Jakarta akan terbentuk di kawasan Harmoni. Skenario pesimistis adalah kondisi Jakarta tanpa ada usaha mengantisipasi penurunan permukaan tanah. Sedangkan skenario optimistis adalah perkiraan penurunan permukaan tanah dengan memperhitungkan sejumlah upaya antisipasinya.

Skenario 2030
Belakangan, muncul pandangan lain. Menurut analisis tim Balitbang PU, kemungkinan tenggelamnya Jakarta bisa lebih cepat, yakni 2030, seperti dikutip Presiden Jokowi. Analisis terbaru ini memprediksi dalam waktu jangka waktu 34 tahun ke depan wilayah Jakarta akan tenggelam. Prediksi terkahir ini mengacu pada asumsi penurunan permukaan tanah rata-rata 16 sentimeter (cm) per tahun. Pada periode 2007-2008 kecepatan penurunan permukaan tanah di Jakarta berada pada rentang 1 hingga 26 cm.

Pada 2008, ketinggian tanah di Monumen Nasional (Monas) hanya 4,9 meter di atas permukaan laut, sedangkan di daerah selatan mencapai 6,9 meter. Dengan asumsi laju penurunan tanah 16 cm per tahun, selama 34 tahun, pada 2050, semua wilayah Jakarta akan tenggelam.

Mengapa permukaan tanah menurun? Salah satu penyebabnya adalah penggunaan air tanah yang berlebihan. Penyedotan air tanah menyebabkan aliran air di bawah tanah kosong, dan akibatnya, tanah di atasnya pun turun.

Sedotan Air Tanah
Untuk diketahui, Jakarta --yang luasnya hanya 622 km2-- dihuni oleh 12,5 juta jiwa. Mereka tentu membutuhkan air bersih yang banyak. Jika kebutuhan per orang adalah 150 liter per hari, maka Jakarta butuh pasokan air sebanyak 684,38 juta m3 per tahun. Sementara itu, kemampuan jangkauan pipa perusahaan air minum (PAM) baru menyentuh 54%. Masih ada sekitar 5,75 juta jiwa yang menggunakan air tanah.
Menurut analisis Institut Hijau Indonesia (IHI), penggunaan air bawah tanah di Jakarta memang sudah melampaui batas kewajaran. Pada 2010, IHI memperkirakan kelebihan penggunaan air bawah tanah di Jakarta sebesar 251,8 juta m3 per tahun. Padahal, batas amannya hanya 186,2 juta m3 per tahun, artinya akan ada kelebihan 66,6 juta m3 dalam satu tahun.
Kini, faktanya, PDAM hanya mampu memenuhi kebutuhan air penduduk Jakarta sebanyak 295,6 juta m3 per tahun. Artinya, baru bisa menjangkau 43,2% warga. Dengan demikian, maka potensi penyedotan air tanah oleh warga Jakarta minimal 388,78 juta m3. Tahun ini, air tanah Jakarta disedot 202,58 juta m3 lebih banyak dari batas amannya. Atau sekitar 304% lebih tinggi dari kondisi tahun 2010. Implikasinya, beban ruang kosong di bawah tanah sekarang menjadi tiga kali lebih besar dari kondisi enam tahun lalu.
Tekanan air tanah, tambah Direktur Eksekutif IHI, Slamet Daroyani, bisa diperparah oleh semakin banyaknya kawasan industri di Jakarta yang menggunakan air bawah tanah tanpa bisa dikontrol oleh pemerintah.


Wilayah Kutub Mencair
Ancaman tak kalah serius yang dapat menenggelamkan Jakarta adalah trend kenaikan permukaan laut. Menurut IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), dalam 100 tahun terakhir telah terjadi peningkatan air laut setinggi 10-25 cm. Sementara, menurut Greenpeace, pada tahun 2100 akan terjadi peningkatan air laut setinggi 19-95 cm.

Bahkan, dunia kini khawatir dengan semakin banyaknya bongkahan es mencair di wilayah kutub. Tahun 2017, suhu di wilayah kutub bisa naik hingga 50o F (10o C). Bayangkan, apa yang terjadi jika bongkahan seluas 5 miliar m3 mencair.

Bila seluruh es Greenland saja mencair, bisa menaikkan permukaan air laut dunia hingga 6 meter. Padahal, untuk menenggelamkan seluruh Jakarta Utara dan sebagian Jakarta Pusat cukup dengan kenaikan permukaan laut 2-3 meter.

Maka, untuk memperlambat ancaman tenggelamnya Jakarta, harus diupayakan langkah meredam penggunaan air tanah berlebihan. Serta mencegah masuknya rob akibat kenaikan permukaan laut. Salah satunya mungkin dengan pembangunan tanggul laut atau proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). Jika, tidak atau terlambat mengantisipasinya, Jakarta dapat tenggelam lebih cepat dari perkiraan.

Dedi Junaedi

Comments

Popular posts from this blog

Wakalah, Hiwalah dan Kafalahah, Hiwalah dan Kafalah

Indikator Keberhasilan Pembangunan Dalam Perspektif Islam

Mengenal DNA Mitokondria