Mencegah Tua atau Kembali Muda, Mungkinkah?

Oleh Dedi Junaedi
Wartawan dan Dosen INAIS Bogor
Mencegah proses penuaan atau kembali menjadi muda adalah harapan banyak orang. Secara teori, ini juga masuk akal dengan mengendalikan gen ‘pemarka’ penuaan. Tetapi, mungkinkah itu dapat diwujudkan secara empiris. Lantas, bagaimana sains dapat menjelaskannya?
Penelitian baru menunjukkan adalah mungkin untuk memperlambat proses penuaan. Atau bahkan membalikkan penuaan menjadi peremajaan. Setidaknya indikasi ini terjadi pada tikus percobaan. Majalah Scientific American (Desember 2016) melaporkan, tim peneliti Salk Institute for Biological Studies (SIBS) di California, AS, dapat mengendalikan proses penuaan pada tikus percobaan.
Dengan mengutak-atik gen marker penuaan, tim SIBS dapat mengubah sel dewasa kembali menjadi sel remaja (embryoniclike). Merka dapat mempercepat, memperlambat, atau membalikkan proses penuaan pada tikus. Teknik ini dapat diterapkan untuk pemulihan tikus yang cedera. Secara in vitro, tim in I juga sedang mencoba hal serupa pada sel manusia.
Pertama kali dipublikasi jurnal Cell (15/12), penelitian ini menambah bobot pada argumen ilmiah bahwa sebagian besar proses merupakan proses epigenetik, perubahan yang terekspresi karena aktivitas gen tertentu. Kehidupan sel dikendalikan antara lain melalui penambahan atau penurangan gen marker. Pada manusia, aktivitas gen penuaan juga dipengaruhi oleh kebiasaan merokok, polusi atau faktor lingkungan lainnya. Sebagian perubahan ini terakumulasi dalam ekspresi otot-otot yang melemah, pikiran yang melambat, kondisi tubuh yang menjadi lebih rentan terhadap penyakit.
Studi baru menunjukkan proses penuaan mungkin kita dapat memanipulasi," kata Juan Carlos Izpisua Belmonte, ahli ekspresi gen Salk Institute. Dalam studinya, dia dapat meremajakan sel tikus waktu singkat. Menurutnya, empat gen memiliki kapasitas untuk mengubah sel dewasa kembali menjadi sel embryoniclike.
Pada tikus percobaan, mereka mengaktifkan empat gen (dikenal sebagai "faktor Yamanaka" sebagai penghargaan atas jasa Shinya Yamanaka, Nobelis Kedokteran 2006, yang menemukan potensi gen tersebut). Pendekatan ini dapat meremajakan otot dan pancreas tikus yang rusak. Aplikasi ini juga dapat memperpanjang usia hingga 30% pada tikus yang mengalami mutasi genetik yang bertanggung jawab terhadap munculnya sindrom Progeria Hutchinson-Gilford (PHG). PHG adalah penyebab munculnya gejala penuaan dini pada anak-anak.
Adanya faktor Yamanaka yang bisa membuat perubahan terbalik pada gen regulator penuaan, beberapa ilmuwan melihat hasil kajian SIBS sebagai bukti lebih lanjut bahwa penuaan didorong oleh perubahan epigenetic yang reversible. "Saya berpikir bahwa pemrograman ulang epigenetik adalah cara utama untuk membalikkan penuaan," kata David Sinclair, peneliti genetika dari Harvard University. Dia mengaku, serangkaian riset memberi banyak bukti bahwa pendorong utama penuaan adalah perubahan epigenetik. Sinclair menambahkan, pihaknya sedang mempersiapkan sebuah makalah yang menjelaskan apa yang menyebabkan perubahan penuaan pada manusia.
Studi Salk menggunakan model tikus paruh baya. Secara teoritis, pemrograman ulang epigenetik dapat bekerja pada tikus maupun orang pada usia berapa pun, kata Alejandro Ocampo, kolega Belmonte. Dia menyebut bahwa bahkan sel dari organ dalam manusia ternyata juga bisa diremajakan. Keduanya sedang berusaha meningkatkan efisiensi dan efektivitas aplikasi gen-gen marker. Mereka berharap tidak perlu waktu lama untuk mendapatkan tindakan rekayasa gen praktis yang dapat diterapkan untuk pengobatan pada manusia.
Matt Kaeberlein, ahli biologi molekuler dari University of Washington juga menemukan bukti empiris bahwa gen faktor Yamanaka dapat dimanipulasi untuk menghasilkan sel-sel remaja. Meremajakan kembali sel dewasa pada tikus percobaan atau dalam medium in vitro, menurutnya, tak lagi mengherankan. Tapi, dia belum berani mengatakan hal serupa bisa digunakan untuk menambah usia hewan atau manusia. ‘’Ada wow factor yang belum bisa dijelaskan,’’ tegasnya.
Kaeberlein menyakini, hasil studi menunjukkan bahwa proses penuaan apat dihambat atau diperlambat. Begitu juga kemungkinan dapat benar-nbenar membalikkan prosesnya. "Itu benar-benar menarik bahwa kelak orang tua dimungkinkan kembali tamoak berfungsi muda," katanya.
Menurut Kaeberlein, juga lebih mudah untuk membayangkan perawatan dengan membuat perubahan epigenome daripada untuk mempertimbangkan pergi ke setiap sel dan mengubah gen-nya. Ia juga mencatat bahwa hasil studi baru yang sangat mirip dengan fakta pada orang pikun, sel-sel mereka sebagian besar sudah kehilangan fungsinya. Sel-sel yang uzur akhirnya harus dikeluarkan tubuh hingga terjadilah penyusutan massa tubuh dan organ. Apakah hal seperti ini bisa diremajakan dengan memprogram ulang epigenetik selnya adalah tantangan menarik.
Manuel Serrano, seorang ahli penuaan Spanish National Cancer Research Center di Madrid, mengatakan dia terkesan dengan studi dan hasilnya. "Saya sepenuhnya setuju dengan kesimpulan. Karya ini menunjukkan bahwa perubahan epigenetik bertanggungjawab terhadap proses penuaan, dan pemrograman ulang dapat memperbaiki kesalahan epigenetiknya, " tulisnya dalam e-mail. "Ini akan menjadi dasar perkembangan menarik di masa depan."
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa manupulasi gen ada juga bahayanya. Fakta riset menunjukkan selain ada keberhasilan, para peneliti juga menengarai bata batas tertentu utak-atik gen juga dapat memicu mutasi gen yang jika berlangsung terus menimbulkan tumor dan kanker. Ada tikus yang mati karena tumor muncul dalam waktu seminggu.
Belmonte mengatakan timnya juga berusaha untuk menjawab apakah penuaan adalah proses yang terjadi secara serentak di seluruh tubuh. Atau, itu hanya terjadi pada beberapa jaringan tertentu yang vital, dimana ketika jaringan/organ itu berjalan buruk, maka akan memburuk juga seluruh tubuh organisme tersebut.
Dia menduga hipotalamus otak --sebagai pusat kontrol untuk hormon, suhu tubuh, mood, kelaparan dan ritme jantung -- mungkin juga bertindak sebagai pengatur penuaan. Makan, pendekatan lain diperlukan untuk menemukan solusi anti-penuaan. Misalnya dengan mengatur pola konsumsi, pembakaran kalori tubuh, atau memperhatikan proses regerenasi darah baru.
Kaeberlein berasumsi, untuk mengatasi masalah penuaan, mungkin perlu banhak strategi dan cara. Ada ada lebih dari satu cara untuk mengatasi persoalan. Terapi gen mungkin saja menjadi komplementer penting untuk membuat orang awet muda dan berumur panjang.
Beberapa senyawa seperti resveratrol, zat aktif dalam anggur merah, tampaknya memiliki sifat anti-penuaan. Kondumsi nutrisi bioaktif dalam konsentrasi tinggi dilaporkan dapat menunda perubahan epigenetik dan melindungi tubuh dari kerusakan jaringan pentingg tubuh. Tetapi, kata Sinclair, pendekatan terapi herbal ini bersifat sementara. Proses degenerasi otot kembali terjadi, ketika pengobatan berhenti atau dihentikan.
Lantas, kapan terapi gen yang berdampak permanen untuk mencegah penuaan tersedia? Belmonte menjabarkan bahwa serangkaian studi lanjutan harus dilakukan. Untuk sampai ke tataran praktis, menurutnya, mungkin kita perlu waktu 10 tahun lagi.
Hanya saja, tim SIBS percaya, dalam waktu tidak terlalu lama, aplikasi epigenetik dapat tersedia untuk mengatasi beberapa penyakit degeneratif yang merupakan pembunuh utama manusia. Antara lain penyakit jantung, kanker dan Alzheimer.
Dedi Junaedi

Comments

Popular posts from this blog

Wakalah, Hiwalah dan Kafalahah, Hiwalah dan Kafalah

Indikator Keberhasilan Pembangunan Dalam Perspektif Islam

Mengenal DNA Mitokondria