Ceres Berair, Mars One Kian Prospektif

Oleh Dedi Junaedi
Wartawan dan Dosen Ekonomi Islam INAIS Bogor

Memasuki awal 2017 satu kabar gembira hadir bagi komunitas penjelajah jagat raya. Dua wahana antariksa, Herschel Telescope dan Spacecraft Dawn, berhasil menjejak sumber air di asteroid Ceres.

Temuan ini menjadi kabar baik bagi upaya membangun kawasan biosfir baru di luar Bumi. Sebuah hunian masa depan sebagai solusi alternatif untuk menjadi habitat dan ekosistem baru. Biosfir baru itu diperlukan karena kelak planet ketiga dalam Tata Surya ini tak lagi cukup menampung dan mendukung keberlanjutan hidup manusia.

‘’Kepastian adanya sumber air menjadi kabar baik yang membangun semangat dan optimisme baru,’’ ungkap Natasha Schon, Mars One Communication, kepada Sains Indonesia melalui emailnya. Mars One tercatat sebagai salah satu megaproyek yang serius mengembangkan biosifr kedua setelah Bumi.
Bumi semakin panas dan menyempit. Berbagai kerusakan dan anomali yang kian meluas --akibat keserakahan manusia-- telah mereduksi potensi keberlanjutan hidup di planet ini. Mars pun dilirik menjadi habitat alternatif di masa depan. Migrasi pertama dijadwalkan tahun 2027.
Dalam 100 tahun, pemukiman permanen di Mares diharaplan terwujud. Untuk diketahui, manusia telah menetap dan mengeksplorasi Bumi dalam 50.000 tahun terakhir. Mars adalah tempat logis berikutnya untuk memulai peradaban baru.
‘’Mars One percaya, pemukiman manusia di Mars akan menjadi acara iptek paling berpengaruh abad ke-21,’’ ungkap Bas Lansdorp, CEO lembaga riset nirlaba yang bermarkas di Belanda itu. Kelak, pemukiman di Mars membawa lompatan teknologi bagi umat manusia. Telah lama digadang-gadang, planet ini akan menjadi markas baru riset alam semesta. Megaproyek ini akan menyingkap sejarah Tata Surya, asal usul kehidupan, dan habitat alternatif manusia di alam semesta. Seperti pendaratan Apollo di Bulan, misi manusia ke Mars akan menginspirasi generasi masa depan bahwa segala sesuatu dapat dicapai dengan ketekunan dan kerjasama.

Jejak Sumber Air

Melalui teleskop Herschel dan Dawn Spacecraft, peneliti memgamati banyaknya uap air dari Ceres. Dawn Spacecraft menemukan batuan es di wilayah kutubnya. Wahana milik Amerika ini, sejak Maret 2015, berusaha menjejak gugusan asteroid yang mengorbit antara Mars dan Jupiter itu.

Dawn dilengkapi dua kamera identik onboard milik Max Planck Institute for Polar System Research (MPS). Berkat kamera framing, ‘planet kerdil’ berdiameter 950 km itu telah hampir sepenuhnya dipetakan. Tim yang bermarkas di Göttingen berhasil mengambil citra jejak-jejak deposit air es.

"Menggunakan kamera framing, kami melihat ada kawah air di daerah dekat kutub utara, pada koordinat antara 65 dan 90 Lintang Utara,’’ ungkap Thomas Platz. Dia penulis utama dari artikel Surface Water-Ice Deposits in the Northern Shadowed Regions of Ceres dalam jurnal Nature Astronomy (7/1/2017).

Sebagian besar kawah ada di kawasan yang nyaris gelap abadi. Tidak pernah kena sinar matahari. Ini terjadi karena sumbu rotasi Ceres 'memiliki sudut kemiringan hanya 4,028 derajat. Dengan kecenderungan aksial kecil berarti matahari tak pernah terbit di atas cakrawala daerah kutub Ceres, jelasnya.

Berburu jejak deposit es pada 634 kawah yang termasuk daerah gelap permanen tentu butuh kerja keras. Berkat ketelitian kamera framing dan ketekunan peneliti, akhirnya tim MPS berhasil mengidentifikasi sepuluh kawah berair. Sebuah kawah yang relatif muda, sementara disebut nomor 2, memainkan peran khusus. Kawah airnya terletak pada 69,9 derajat LU dan memiliki diameter 3,8 kilometer. Deposit air tampak terang melampaui kegelapan permanen di sekitarnya, tambah Andreas Nathues, ketua tim riset kamera framing MPS. "Kita jelas bisa melihat jejak spektral air es, tetapi tidak dapat menemukan gas beku lainnya."

Para ilmuwan telah lama berpikir bahwa interior Ceres 'mengandung sejumlah besar es karena densitasnya sangat rendah, sekitar - 2,1621 gram per sentimeter kubik. Temuan sekarang ini adalah kedua kalinya bahwa air telah ditemukan langsung di permukaan kawah Ceres. Temuan pertama dilaporkan bersarkan riset tahun 2014. Kala itu, tim riset menggunakan teleskop Herschel yang dioperasikan oleh ESA (European Space Agency). Temuan ini kemudian divalidasi bulan Desember 2015 oleh peneliti Max Planck di Göttingen. Mereka menggunakan Kamera Framing untuk merekam adanya jejak kabut dan uap air di sekitar dua kawah kawasan ekuator Ceres.

Dingin, Gelap Permanen

Deposit es di bagian permukaan Ceres yang kena sinar matahari langsung ditemukan dalam kondisi tidak stabil secara geologi. Asteroid besar in nyaris tak memiliki atmosfer. Maka, es cepat tersublimasi begitu mencapai permukaan. Di tempat-tempat yang permanen gelap, dan dengan demikian sangat dingin, suhu jatuh di bawah - 163 derajat Celsius, es bisa bertahan untuk waktu yang sangat lama.
"Kawah dekat kutub Ceres, bagaimanapun, mengandung es yang mungkin berasal dari Ceres sendiri," jelas Platz. Dalam riset sebelumnya yang berkolaborasi dengan tim dari Free University of Berlin, dia mampu menunjukkan simulasi adanya deposit batuan es di bawah dan dekat permukaan kawah Oxo, tak jauh dari kawasan kutub Ceres.
Sebelumya, pada Juli 206, para astronom Universitas Hawaii telah mengidentifikasi adanya wilayah dingin permanen di Ceres. Kawasan itu cukup dingin untuk menjebak air es. Deposit air itu diduga telah ada sejak miliaran tahun lalu hingga sekarang.

“Kami menduka akumulasi deposit air banyak tersimpan di Ceres. Ada indikasi kuat di sana banyak molekul air terjebak secara permanen dalam wilayah yang sangat ekstrim dingin, lebih dingin dari yang ada di bulan atau Merkurius,’’ jelas Norbert Schorghofer, anggota investigator Dawn Mission NASA.
Menurut Tim Hawaii, wilayah dingin permanen itu banyak memiliki kawah, dimana sebagiannya menerima sinar matahari tidak langsung. Wilayah itu bersuhu sekitar -240 derajat Fahrenheit (-151 derajat Celsius. Banyak sumber air terperangkap di sana.
“Selain dekat, Ceres juga memiliki permukaan stabil sehingga dapat mendukung kepemntingan eksplorasi antariksa lainnya. Termasuk pyoyek hunian Mars One,’’ Erwan Mazarico, investigator tamu Dawn di Goddard.
Berapa potensi air Ceres belum dipastikan. Tapi, Mazarico menduga cukup berlimpah. Bahkan mungkin lebih banyak dari air Bumi. Setiap tahun setidaknya ada 1.000 liter air terjebak dalam setiap meter kawah. Prosesnya telah berlangsung lama, setidaknya sejak 100.000 tahun lalu. Bayangkan, jika ada ratusan kawah, maka betapa melimpahnya sumber air di sana. Ini cukup untuk mendukung proyek hunian di Mars.
Dedi Junaedi

Comments

Popular posts from this blog

Wakalah, Hiwalah dan Kafalahah, Hiwalah dan Kafalah

Indikator Keberhasilan Pembangunan Dalam Perspektif Islam

Magnet Bumi Berubah: Kelak, Matahari Terbit dari Barat!