Penasihat Sains Donald Trump: Apollo Mendarat di Bulan itu Hoaks Terbesar!

Oleh Dedi Junaedi
Wartawan dan Disen INAIS Bogor
Donald Trump kembali membuat kejutan. Setelah mendeklarasikan kebijakan luar negeri ultraproteksionis, kubu Presiden AS ke-45 ini juga menggebrak masyarakat ilmiah. Melalui penasihat sains kepresidenan, mereka membuat pernyataan kontroversial dengan menyebut misi pendaratan di bulan sebagai kebohongan besar.
‘’Siapa bilang astronom Amerika pernah ke bulan? Apollo tak pernah mendarat di bulan. Informasi itu tak bisa dipercaya dan merupakan kebohongan besar dalam dunia sains,’’ ungkap David Hillel Gelernter, gurubesar ilmu computer dari Universitas Yale, seperti dikutip Science Today dan dikutip Worldnetdailyreport.com (23/1).
Ahli komputer yang kerap bersuara kontroversial ni juga meragukan kesahihan proyek ambisius dari Pemerintahan Obama yang mentargetkan untuk membuat hunian manusia di planet Mars. "Bagaimana mungkin kita bisa mengelola pesawat berawak dapat mengorbit Mars pada pertengahan 2030, sementara kita sendiri tidak pernah pergi ke bulan? Ide ini dapat saya bilang sungguh menggelikan,’’ tambah Prof David Gelernter.

Hoaks Terbesar
"Pendaratan Apollo di bulan dapat dikatakan merupakan hoaks dan penipuan terbesar dalam sejarah umat manusia. Bahkan, lebih buruk dari semua omong kosong tentang pemanasan global," tambahnya.
David Gelernter belum lama ini ditunjuk menjadi penasihat sains dan teknologi Presiden Donald Trump. Sikap kritis dan pemikiran alternatif yang kerap disuarakan terhadap Pemerintahan Obama agaknya telah membuat Presiden AS dari Partai Republik ini jatuh hati. Terlebih setelah dia masuk barusan Top 100 versi majalah Time (2016).
Lima tahun lalu, profesor eksentrik itu mulai menyerang ikhwal pendaratan Apollo di bulan. Melalui buku America-Lite: How Imperial Academia Dismantled Our Culture (and Ushered in the Obamacrats (2012), dia panjang lebar menyampaikan suara keprihatinannya tentang ketidakmungkinan perjalanan ruang angkasa luar menembus medan magnet bumi.
Di zaman modern, menurut Gerlernter, kita tidak pernah bekerja di luar medan magnet bumi. “Dengan pengecualian dari dugaan klaim bahwa 24 manusia pernah pergi ke bulan melaui Program Apollo 1968-1972, semua misi antariksa berawak telah terjadi di orbit rendah Bumi (LEO) atau di bawahnya. Bahkan, Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), yang merupakan hasil kolaborasi beberapa negara, semuanya beroperasi pada wilayah orbt LEO, " jelasnya.
"Mengapa demikian? Hal ini karena pada orbit lebih tinggi, semua perangkat elektronik modern yang ada tidak akan berfungsi atau mengalami kegagalan awal akibat cekman radiasi yang begtu kuat saat berusaha menembus kawasan sabuk radiasi Van Allen, " tegasnya.

Kendala Sabuk Van Allen
Profesor Gelenter, dalam bukunya mendokumentasikan wacana ilmiah yang menunjukkan bahwa ilmuwan NASA masih menyadari ketidakmungkinan bepergian melewati Van Allen Belt, sabuk radioaktif yang sangat kuat dan berbahaya. .
"Misi Apollo seharusnya menjadi acara pertama manusia dapat melakukan perjalanan melalui sabuk Van Allen. Tetapi, bahkan hingga saat ini para ilmuwan NASA mengakui bahwa mereka tidak bisa melewati Sabuk Van Allen," tulisnya dalam buku yang populer tahun 2012 itu.
"Para ilmuwan NASA jujur mengakui tahun 2012 bahwa mereka masih belum dapat menemukan solusi bagaimana melindungi pesawat ruang angkasa aman dari dari cekaman radiasi yang dipancarkan sabuk Van Allen.’’ Dia mempertanyakan, bagaimana mungkin kita dapat mengirim manusia ke ruang angkasa dan menembus sabuk radiasi dengan jas aluminium foil? Menjadi pertanyaan besar juga bagaimana mengatasi dampak aktivitas matahari saat berada di puncaknya? ‘’Jawabannya sederhana: misi pendaratan itu tidak atau belum pernah terjadi, " pungkasnya.
Meski suara dan klaim ilmiahnya kontroversial, David Gelernter cukup ternama di masyarakat ilmiah dunia. Dia telah berhasil meraih beberapa penghargaan penting dalam pengembangan ilmuwan computer. Antara lain tentang kontribusinya dalam pengembangan sistem komputasi paralel dan prediksi awal dari munculnya jaring laba-laba internet (World Wide Web).
Tahun lalu, majalah Time telah menobatkan David Gelernter dalam daftar Top 100 yang paling berpengaruh pada abad ke-21. Dia dianggap sebagai salah satu orang yang masuk komunitas paling jenius. The New York Times menyebutnya sebagai "Bintang Rock" dalam ilmu komputer. "Gelenter adalag salah satu yang paling brilian dan ilmuwan komputer visioner yang kita miliki," tulis harian terbesar di Amerika itu.

Ilmuwan Eksenterik
Lahir 5 Maret 1955, David Hillel Gelernter adalah seorang seniman, penulis, dan profesor ilmu komputer di Universitas Yale, AS. Dia adalah aktivis nasional di American Enterprise Institute dan tokoh pemikir Yahudi di Shalem Center, dan National Endowment for the Arts.
Aneka tulisannya banyak muncul di Wall Street Journal, New York Post, Los Angeles Times, Weekly Standard, Frankfurter Allgemeine Zeitung, dan media lainnya. Karya lukisannya telah dipamerkan di New Haven dan Manhattan.
Putra ahli komputer Herbert Gelernter ini punya kontribusi penting dalam pengembangan komputasi paralel dan pengembangan jaringan internet (WWW). Dia juga gigih menyangkal argmentasi ilmiah tentang pemanasan global yang menurutnya berlebihan dan syarat kepentingan.
Tahun 1993, dia mendapat musibah menjadi korban bom buku bersama Ted Kaczynski. Bom tak teridentifikasi ini hampir membunuhnya dan telah membuatnya cacat permanen pada bagian tangan kanan dan mata kanannya.
Setelah diprofikan majalah Time sebagai salah satu dari 100 ilmuwan berpengaruh abad 21 pada tahun 2016, awal 2017 telah disebut-sebt TheWashington Post sebagai tokoh yang berpotensi dipilih menjadi penasihat penting Donald Trump. Meski berdarah Yahudi, dia termasuk pihak yang tidak setuju adanya peningkatan dominasi Yahudi dalam perguruan tinggi di AS. “Dominasi Yahudi harus dilihat sebagai kemunduran dari budaya Amerika,’’ ungkapnya.
Anak dari profesor ilmu komputer Herbert Gelernter, David Gelernter menerima gelar BA dan MA dalam literatur bahasa Ibrani klasik dari Yale University pada tahun 1976. Gelar PhD diperolehnya tahun 1982. dari SUNY Stony Brook.

Hobi Menulis dan Melukis
Selain hobi menulis dan melukis, dia ikut berjasa membesarkan banyak perusahaan IT seperti Mirror Technologies, Scopeware, Apple Inc, Best Buy Co Inc, Dell Inc, Hewlett Packard Co, Lenovo (Amerika Serikat) Inc, Lenovo Group Ltd, Microsoft Corporation, Samsung Electronic USA Inc, Samsung Telecommunications America.
Aktif sebagai anggota kehormatan Dewan Seni Nasional Amerika, Gelernter menjadi kolomnis tetap di majalah City Journal, The Weekly Standard, Commentary, dan LA Times. Semasa kampanye pilpres, Gelernter amat rajin mengkritik Kepemimpinan Obama dan capres demokrat Hillary Clinton.
Dalam opini di Wall Street Journal, dia terang-terangan mendukung Donald Trump untuk menjadi Presiden AS. Dia menyebut Hillary Clinton sebagai penuh kepalsuan dan merupakan penerus Barack Obama yang disebutnya sebagai pemimpin tiran tingkat ketiga.
Melalui dukungannya ke Donald Trump, suami Jane Gerlernter ini percaya akan adanya pembaharuan dalam budaya Amerika. Antara lain melalui perbaikan kurikulum yang memungkinkan siswa dan mahasiswa Amerika kembali mengenal seni, budaya, filsafat, dan Alkitab.

Dedi Junaedi

Comments

Popular posts from this blog

Wakalah, Hiwalah dan Kafalahah, Hiwalah dan Kafalah

Indikator Keberhasilan Pembangunan Dalam Perspektif Islam

Magnet Bumi Berubah: Kelak, Matahari Terbit dari Barat!