NASA Temukan Planet Mirip Bumi

Menggunakan teleskop Spitzer Space, astronom NASA merilis termuan planet baru di luar tatasurya. Namanya TRAPPIST-1. Memiliki tujuh planet pengorbit, tiga di antaranya berlokasi di zona aman, berbatuan dan berair.

Ilustrasi permukaan TRAPPIST-1f. Menurut NASA, tiga dari tujuh sistem planet luar itu punya ukuran dan karakteristik mirip Bumi.
Temuan yang dirilis jurnal Nature (23/2) itu merupakan catatan baru dan penting dalam perburuan planet luar. Bayangkan, ada tujuh planet baru mengorbit bintang tunggal. Tiga di antaranya berada pada zona aman yang memungkinkan menjadi habibat baru makhluk hdup. Planet itu memiliki batuan, sumber air dan punya atmosfir yang mendukung proses kehidupan.
“Temuan ini menjadi amat bermakna mengisi teka-teki pencarian planet di luar tatasurya yang dapat menjadi ekosistem baru yang kondusif terhadap kehidupan,’’ kata Thomas Zurbuchen, pekabat di Direktorat Misi Sains NASA di Washington. “Langkah berikutnya, adalah menjawab pertanyaan apakah planet-planet baru itu dapat menjadi kawasan hunian alternatif? Pilihan ketika kelak Bumi tak lagi sanggup mendukung berlanjutnya kehidupan,’’ tambahnya.
Zona Layak Huni
Tujuh planet itu diketahui sama-sama mengorbit bintang tunggal yang relatif redup dan dingin. Bintang katai ini disebut TRAPPIST-1. ‘’Kami berani mengatakan, tiga planet di antaranya adalah termasuk habitable zone,’’ ungkap Zurbuchen.
Dia juga berkeyakinan sistem TRAPPIST-1 jauh lebih menarik perhatian dibanding temuan exoplanet Gliese 667C pada tahun 2013. Ditemukan tim astronom Jerman dan Inggris, bintang Gliese 667C punya masa sepertiga matahari, berlokasi di konstelasi gugus bintang Scorpius dan berjarak jarak 22 tahun cahaya dari Bumi.

Bintang katai TRAPPIST-1 memiliki tujuh planet pengorbit. Tiga di antaranya mirip Bumi.
Sistem planet TRAPPIST-1 terletak di kontelasi gugus bintang Aquarius. Berjarak sekitar 235 tirlyun mil atau sekitar 40 tahun cahaya dari Bumi. Oleh karena berlokasi di luar sistemtatasurya, maka sistem planet itu secara ilmiah disebut sebagai sistem eksoplanet atau planet luar.
Nama TRAPPIST-1 sendiri berasal dari akronim nama teleskop di Chili, yakni: The Transiting Planets and Planetesimals Small Telescope (TRAPPIST). Pada Mei 2016, para astronom pengguna teleskop ini berhasil menemukan sistem eksoplanet itu. Dibantu beberapa teleskop lain, seperti Very Large Telescope milik European Southern Observatory’ (ESO), teleskop Spitzer mengkonfirmasi keberadaan dua dari tiga planet ini. Sementara lima planet lain teramati kemudian sehingga sistem tujuh planet baru itu dipastikan keberadaannya. Hasil observasi tim NASA ini kemudian resmi dipublikasi jurnal Nature edisi 23 Februari 2017.
Mirip Bumi
Menggunakan data Spitzer, tim mencoba mengukur ukuran dimensi dan massa dari planet-planet itu, dengan terlebih dahulu menaksir densitas masing-masing. Berdasarkan analisis densitasnya, semuat planet dalam sistem TRAPPIST-1 memiliki batuan. Observasi lanjutan sedang dilakukan untuk memastikan bahwa planet itu tidak saja punya sumber air, melainkan apakah ada air mencar (siap pakai) di permukaan planetnya.
Enam planet pertama sudah diperkirakan dimensi dan karakteristik utamanya. Sementara itu, besaran masa dari planet ketujuh atau planet terjauh diakui belum dapat diperkirakan. Tetapi, para saintis percaya itu seperti efek bola salju, tinggal menunggu waktu.
“Dari tujuh planet anggota tata TRAPPIST-1, satu di antaranya punya ukuran seperti Bumi. Da juga berbatu, berair, dan memiliki atmosfir,” jelas Michael Gillon, penulis utama jurnal serta peneliti senior dalam program TRAPPIST Exoplanet Survey di University of Liege, Belgia. “Saya berani menyimpulkan, ini target terbaik dalam studi mencari planet baru yang berpotensi menjadi kawasan hunian alternatif,’’ tegasnya.
Ilustrasi sistem TRAPPIST-1 beserta perkiraan dimensi dan jarak orbitnya.

Berbeda dengan sistem tatasurya (Matahari) kita, TRAPPIST-1 termasuk bintang katai yang relatif redup dan dingin. Temuan ini menarik karena memungkinkan air cair bisa bertahan di planet yang mengorbit sangat dekat dengan bintangnya. Jaraknya, lebih dekat daripada jarak planet-planet di tata surya kita. Ketujuh planet di TRAPPIST-1 mengorbit pada lintasan yang lebih dekat ketimbang lintasan Merkurius pada tatasurya. Planet-planet itu juga berjarak sangat dekat satu sama lain. Jika seseorang berdiri di salah satu permukaan planet, mereka bisa menatap dan berpotensi melihat fitur geologi atau awan planet tetangganya, yang kadang-kadang akan muncul lebih besar dari bulan di langit Bumi.

Pasang Surut
Sebagai konsekuensinya, planet-planet juga dapat mengalami pasang surut yang terkait langsung dengan aktivitas bintangnya. Kondisi siang dan malam bisa berlangsung ekstrim, ada wilayah yang abadi maupun malam abadi. Ini bisa berarti mereka memiliki pola cuaca benar-benar tidak seperti di Bumi, seperti angin kencang bertiup dari siang hari ke malam hari. Demikian pula ada perubahan suhu yang ekstrim.
Spitzer, teleskop inframerah yang membuntuti bumi yang mengorbit matahari, cocok untuk mempelajari TRAPPIST-1 karena bintang bersinar terang dalam cahaya inframerah, yang panjang gelombang lebih panjang dari yang dapat dilihat mata.
Pada musim gugur 2016, Spitzer mengamati TRAPPIST-1 hampir terus-menerus selama 500 jam. Spitzer diposisikan secara unik dalam orbitnya untuk mengamati lintasan planet saat mengorbit bintangnya untuk mengungkapkan arsitektur kompleks dari sistem planet luar. Selama lima tahun, para insinyur telah mengoptimalkan kemampuan Spitzer untuk dapat mengamati planet-planet yang transit selama "misi hangat" Spitzer.
"Ini adalah hasil yang paling menarik yang saya lihat dalam 14 tahun operasi Spitzer," kata Sean Carey, manajer Spitzer Science Center NASA di Caltech / IPAC di Pasadena, California. "Spitzer akan menindaklanjuti observasi pada musim gugur untuk lebih menyempurnakan pemahaman kita tentang planet ini. Selanjutnya observasi lanjutanpe diharapkan dapat mengungkapkan lebih banyak rahasia," tambah Sean.
Menindaklanjuti penemuan Spitzer, teleskop antariksa Hubble NASA telah mulai memonitor planet-planet ekso tersebut, termasuk tiga di sntaranya masuk dalam zona layak huni. Pengamatan ini bertujuan menilai keberadaan atmosfer hidrogen yang dominan seperti di sekitar Neptunus.
Teleskop panorama 360 derajat ini mampu menggambarkan permukaan sebuah planet yang baru terdeteksi., "Sistem TRAPPIST-1 memberikan salah satu peluang terbaik pada dekade berikutnya untuk mempelajari atmosfer sekitar planet seukuran Bumi," kata Nikole Lewis, co-leader dari astronom Space Telescope Science Institute di Baltimore, Maryland.

Observasi Lanjutan
Sementara itu, NASA juga sudah mengerahkan teleskop Kepler untuk mempelajari sistem TRAPPIST-1. Termasuk melakukan pengukuran perubahan sangat kecil di bintang dan saat planet-planet transit dan mengorbit. Misi observasi melalui K2 diharapkan dapat mengungkap informasi lebih rinci dan menyeuruh. Hasil analisa terakhir direncanakan tersedia dalam waktu dekat.
Melengkapi observasi menggunakan teleskop Spitzer, Hubble, dan Kepler, pihak NASA terus memperbaiki fasilitas riset para astronomnya. Tahun 2018, misalnya, sudah dijadwalkan sebagai waktu peluncuran James Webb Space Telescope. Dengan sensitivitas yang jauh lebih besar, teleskop James Webb konon dapat mendeteksi sidik jari dari kimia air, metana, oksigen, ozon, dan komponen lain dari atmosfer suatu planet. Webb juga akan menganalisis suhu planet 'dan tekanan permukaan, yang diyakini menjadi faktor kunci dalam menilai kelayakhunian mereka sebagai planet alternatif.

Dedi Junaedi

Comments

Popular posts from this blog

Wakalah, Hiwalah dan Kafalahah, Hiwalah dan Kafalah

Indikator Keberhasilan Pembangunan Dalam Perspektif Islam

Magnet Bumi Berubah: Kelak, Matahari Terbit dari Barat!