Transportasi Supersonik Berbasis Tabung Vakum

Dari waktu ke waktu, sains dan teknologi berkembang semakin cepat. Bahkan dengan akselerasi yang lebih tinggi dari perkiraan para ahlinya. Teknologi transportasi berbasis tabung vakum dan terowongan levitasi magnetic termasuk di dalamnya.
Tiga puluh enam tahun lalu, melalui buku 2081: A Hopeful View of the Human Future, fisikawan Amerika Gerard K O'Neill, misalnya, membuat ramalan ilmiah. Bahwa pada 2081 –100 tahun setelah riset fisika energi tinggi berkembang—wajah transportasi dunia akan berubah. Wahana transportasi berbasis tabung vakum akan menjadi pilihan menarik. Dia akan melesat dalam terowongan hampa dengan kecepatan supersonik. Moda pesawat terbang yang berat dan boros energi akan kalah cepat dari kereta ‘levitasi magnetik’ layang yang hemat energi.
Gerard K O'Neill, termasuk ilmuwan penggagas pembangunan koloni di antariksa, melakukan prediksinya berdasar dua pendekatan. Pertama, analisis terhadap sejumlah visi para ahli futurolog yang ada tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Sumber rujukannya antara lain Edward Bellamy, JD Bernal, McGeorge Bundy, Arthur C Clarke, George Darwin, J B S Haldane, Robert Heilbroner, Aldous Huxley, Rudyard Kipling, Thomas More, George Orwell, George Thompson, Konstantin Tsiolkovski, Jules Verne, HG Wells, dan Eugene Zamiatin.
Kedua, dia melakukan ekstrapolasi perkembangan masa depan berdasarkan asumsi kemajuan sains dan teknologi paling mutakhir (frontier) dan asumsi tren historisnya. Ada lima teknologi yang disebutnya sebagai Driver of Change masa depan. Yaitu, automasi, koloni antariksa, komunikasi, komputer, dan energi.
Belakangan, ramalan penulis The High Frontier: Human Colonies in Space (1977) dikoreksi oleh futurolog Thomas Frey. Menurut pendiri Colorado DaVinci Institute, apa yang diramalkan Gerard K O'Neill dapat terjadi lebih cepat. “Era kereta tabung supercepat akan hadir tahun 2030,’’ ungkap penulis buku Communicating with the Future (2013) seperti dikutip Futuristspeaker.com.
Thomas Frey menjelaskan, saat drone telah menjadi mainan bagi 80% warga AS, wahana kereta layang berbasis tabung atau kapsul dapat menjadi sarana masa depan yang nyaman dan hemat energi. Mereka akan melesat seperti roket dalam terowongan vakum berlevitasi magnetik. Kecepatannya sudah akan mengalahkan pesawat jumbo jet Boeing-747.
Empat tahun lalu, kolumnis sejumlah media ternama -- New York Times, Huffington Post, Times of India, USA Today, US News and World Report, The Futurist Magazine – itu sudah memaparkan prediksi ilmiahnya. Teman satu kampung dengan petinju legendaris Muhammad Ali ini menjelaskan bahwa ada dua pemain besar yang akan berkompetisi dalam wahana transportasi supercepat masa depan itu. Keduanya adalah Hyperloop Project yangdikembangkan miliarder Elon Musk (CEO Tesla Motor di di Los Angelos dan CEO SpaceX di San Francisco) dan ET3 (Evacuated Tube Transport Technologies) yang dikembangkan Daryl Oster melalui Global Alliance Inc di Colorado, AS.
Elon Musk dan Daryl Oster, menurut Frey, akan bersaing ketat untuk menggarap proyek infrastruktur terbesar di dunia. Megaproyek itu akan menciptakan jutaan lapangan kerja baru dan berkelanjutan. Demi masa depan, keduanya sama-sama misterius dan gila teknologi, meski sepi dalam pemberitaan. Mereka merintis pengembangan gerbong kereta atau kendaraan yang dirancang khusus untuk ditempatkan dalam tabung vakum tersegel yang siap ditembakkan seperti roket menuju tempat tujuan mereka. Jalur tranportasi disediakan melalui terowongan khusus berlevitasi magnetik, di atas atau di bawah permukaan bumi.
Thomah Frey membandingkan, jika kereta yang ada memiliki batas kecepatan hingga 300 mph (482,7 km/jam), maka transportasi tabung masa depan akan memiliki potensi kecepatan hingga 4.000 mph (6.500 km/jam). Dengan begitu, jarak antar benua dapat ditempuh dalam hitungan jam. ,
Dekade 2030, manusia di benua mana pun dapat nyaman menikmati wahana tranportasi supersonik dan ultrasonik. Sebuah Hyperloop atau ET3 dapat menempuh jarak Jakarta – Taipei (berjarak 3.802 km) dalam waktu 35 menit. Atau Jakarta – Madrid (berjarak 12.187) dapat dijangkau dalam waktu kurang dari dua jam. Demikian pula, Jakarta – Jeddah yang berjarak 7997,95 km dapat ditempuh sekitar 75 menit saja. Itu dimungkinkan karena wahana tabung dirancang dapat melesat hingga 5,2 mach (kecepatan suara) – dimana 1 mach = 1234.48 km/jam.
Wahana transportasi Hyperloop dan ET3, tambah Thomas Frey, jelas punya banyak kelebihan dibanding sarana yang selama ini ada. Antara lain hal kecepatan, konsumsi daya yang minimal, polusi yang nyaris tidak ada, dan lebih aman dari kemungkinan kecelakaan lalulintas. Jalur lalulintas dapat dibuat hingga sepanjang 160.000 km, yang memungkinkan kota-kota penting antar benua saling terkoneksi.
Futurolog itu memperkirakan dalam waktu 50 tahun, proyek infrastruktur senilai 1 triliun dolar AS dapat dibangun dengan mempekerjakan sekitar 100 juta orang. Jelas, ini satu alternatif solusi pembangunan yang menarik di tengah adanya ledakan penduduk dan kian terbatasnya sumberdaya alam.
Dalam literasi ilmiah, prediksi 2030 adalah era pembuktian Vactrain (Vaccum Train). Konsep kereta vakum ini awalnnya diusulkan ilmuwan Rusia, Boris Weinberg, 1914. Dia mendeskripsikannya dalam Motion without Friction. Lima tahun kemudian, dia membuat model Vactrain di lab Tomsk University.
Tahun 1910, tokoh kedirgantaraan Amerika, Robert Goddard, mengadopsi Vactrain. Berama mahasiswanya, dia menciptakan prototipe kereta layang berkecepatan 1.000 mph (1.602 km/jam), sehingga jarak Boston - New York dapat ditempuh dalam waktu 12 menit. Mimpinya belum terwujud saat dia meninggal 1945,
Vactrain menjadi berita utama tahun 1970-an ketika advokat terkemuka, Robert M Salter dari RAND, menerbitkan serangkaian artikel teknik pada tahun 1972-1978. Narasi Vactrain juga muncul dalam novel karya Arthur C Clarke, Rescue Party (1946), kemudian Ray Bradbury dalam Fahrenheit 451 (1950), dan Robert A Heinlein dalam Friday (1982). Sampai kemudian Gerard K O'Neill menyebut kembali dengan istilah "floater train” dalam bukunya tahun 1981.
Boleh jadi, ramalan Thomas Frey soal tahun 2030 juga perlu dikoreksi lagi. Tahun ini, Pemerintah Dubai sedang membangun sarana tranportasi Hyperloop untuk jalur Dubai-Abu Dhabi. Tahun 2020, megaproyek ini ditarget mulai operasional. Sayang, pembuktian ini tak lagi bisa disaksikan oleh Gerard K O'Neill. Salah satu konseptor wahana antariksa Apollo dan Challenger itu meninggal 1992 karena serangan kanker leukemia.
Dedi Junaedi
Transportasi Supersonik Berbasis Tabung Vakum
Dari waktu ke waktu, sains dan teknologi berkembang semakin cepat. Bahkan dengan akselerasi yang lebih tinggi dari perkiraan para ahlinya. Teknologi transportasi berbasis tabung vakum dan terowongan levitasi magnetic termasuk di dalamnya.
Tiga puluh enam tahun lalu, melalui buku 2081: A Hopeful View of the Human Future, fisikawan Amerika Gerard K O'Neill, misalnya, membuat ramalan ilmiah. Bahwa pada 2081 –100 tahun setelah riset fisika energi tinggi berkembang—wajah transportasi dunia akan berubah. Wahana transportasi berbasis tabung vakum akan menjadi pilihan menarik. Dia akan melesat dalam terowongan hampa dengan kecepatan supersonik. Moda pesawat terbang yang berat dan boros energi akan kalah cepat dari kereta ‘levitasi magnetik’ layang yang hemat energi.
Gerard K O'Neill, termasuk ilmuwan penggagas pembangunan koloni di antariksa, melakukan prediksinya berdasar dua pendekatan. Pertama, analisis terhadap sejumlah visi para ahli futurolog yang ada tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Sumber rujukannya antara lain Edward Bellamy, JD Bernal, McGeorge Bundy, Arthur C Clarke, George Darwin, J B S Haldane, Robert Heilbroner, Aldous Huxley, Rudyard Kipling, Thomas More, George Orwell, George Thompson, Konstantin Tsiolkovski, Jules Verne, HG Wells, dan Eugene Zamiatin.
Kedua, dia melakukan ekstrapolasi perkembangan masa depan berdasarkan asumsi kemajuan sains dan teknologi paling mutakhir (frontier) dan asumsi tren historisnya. Ada lima teknologi yang disebutnya sebagai Driver of Change masa depan. Yaitu, automasi, koloni antariksa, komunikasi, komputer, dan energi.
Belakangan, ramalan penulis The High Frontier: Human Colonies in Space (1977) dikoreksi oleh futurolog Thomas Frey. Menurut pendiri Colorado DaVinci Institute, apa yang diramalkan Gerard K O'Neill dapat terjadi lebih cepat. “Era kereta tabung supercepat akan hadir tahun 2030,’’ ungkap penulis buku Communicating with the Future (2013) seperti dikutip Futuristspeaker.com.
Thomas Frey menjelaskan, saat drone telah menjadi mainan bagi 80% warga AS, wahana kereta layang berbasis tabung atau kapsul dapat menjadi sarana masa depan yang nyaman dan hemat energi. Mereka akan melesat seperti roket dalam terowongan vakum berlevitasi magnetik. Kecepatannya sudah akan mengalahkan pesawat jumbo jet Boeing-747.
Empat tahun lalu, kolumnis sejumlah media ternama -- New York Times, Huffington Post, Times of India, USA Today, US News and World Report, The Futurist Magazine – itu sudah memaparkan prediksi ilmiahnya. Teman satu kampung dengan petinju legendaris Muhammad Ali ini menjelaskan bahwa ada dua pemain besar yang akan berkompetisi dalam wahana transportasi supercepat masa depan itu. Keduanya adalah Hyperloop Project yangdikembangkan miliarder Elon Musk (CEO Tesla Motor di di Los Angelos dan CEO SpaceX di San Francisco) dan ET3 (Evacuated Tube Transport Technologies) yang dikembangkan Daryl Oster melalui Global Alliance Inc di Colorado, AS.
Elon Musk dan Daryl Oster, menurut Frey, akan bersaing ketat untuk menggarap proyek infrastruktur terbesar di dunia. Megaproyek itu akan menciptakan jutaan lapangan kerja baru dan berkelanjutan. Demi masa depan, keduanya sama-sama misterius dan gila teknologi, meski sepi dalam pemberitaan. Mereka merintis pengembangan gerbong kereta atau kendaraan yang dirancang khusus untuk ditempatkan dalam tabung vakum tersegel yang siap ditembakkan seperti roket menuju tempat tujuan mereka. Jalur tranportasi disediakan melalui terowongan khusus berlevitasi magnetik, di atas atau di bawah permukaan bumi.
Thomah Frey membandingkan, jika kereta yang ada memiliki batas kecepatan hingga 300 mph (482,7 km/jam), maka transportasi tabung masa depan akan memiliki potensi kecepatan hingga 4.000 mph (6.500 km/jam). Dengan begitu, jarak antar benua dapat ditempuh dalam hitungan jam. ,
Dekade 2030, manusia di benua mana pun dapat nyaman menikmati wahana tranportasi supersonik dan ultrasonik. Sebuah Hyperloop atau ET3 dapat menempuh jarak Jakarta – Taipei (berjarak 3.802 km) dalam waktu 35 menit. Atau Jakarta – Madrid (berjarak 12.187) dapat dijangkau dalam waktu kurang dari dua jam. Demikian pula, Jakarta – Jeddah yang berjarak 7997,95 km dapat ditempuh sekitar 75 menit saja. Itu dimungkinkan karena wahana tabung dirancang dapat melesat hingga 5,2 mach (kecepatan suara) – dimana 1 mach = 1234.48 km/jam.
Wahana transportasi Hyperloop dan ET3, tambah Thomas Frey, jelas punya banyak kelebihan dibanding sarana yang selama ini ada. Antara lain hal kecepatan, konsumsi daya yang minimal, polusi yang nyaris tidak ada, dan lebih aman dari kemungkinan kecelakaan lalulintas. Jalur lalulintas dapat dibuat hingga sepanjang 160.000 km, yang memungkinkan kota-kota penting antar benua saling terkoneksi.
Futurolog itu memperkirakan dalam waktu 50 tahun, proyek infrastruktur senilai 1 triliun dolar AS dapat dibangun dengan mempekerjakan sekitar 100 juta orang. Jelas, ini satu alternatif solusi pembangunan yang menarik di tengah adanya ledakan penduduk dan kian terbatasnya sumberdaya alam.
Dalam literasi ilmiah, prediksi 2030 adalah era pembuktian Vactrain (Vaccum Train). Konsep kereta vakum ini awalnnya diusulkan ilmuwan Rusia, Boris Weinberg, 1914. Dia mendeskripsikannya dalam Motion without Friction. Lima tahun kemudian, dia membuat model Vactrain di lab Tomsk University.
Tahun 1910, tokoh kedirgantaraan Amerika, Robert Goddard, mengadopsi Vactrain. Berama mahasiswanya, dia menciptakan prototipe kereta layang berkecepatan 1.000 mph (1.602 km/jam), sehingga jarak Boston - New York dapat ditempuh dalam waktu 12 menit. Mimpinya belum terwujud saat dia meninggal 1945,
Vactrain menjadi berita utama tahun 1970-an ketika advokat terkemuka, Robert M Salter dari RAND, menerbitkan serangkaian artikel teknik pada tahun 1972-1978. Narasi Vactrain juga muncul dalam novel karya Arthur C Clarke, Rescue Party (1946), kemudian Ray Bradbury dalam Fahrenheit 451 (1950), dan Robert A Heinlein dalam Friday (1982). Sampai kemudian Gerard K O'Neill menyebut kembali dengan istilah "floater train” dalam bukunya tahun 1981.
Boleh jadi, ramalan Thomas Frey soal tahun 2030 juga perlu dikoreksi lagi. Tahun ini, Pemerintah Dubai sedang membangun sarana tranportasi Hyperloop untuk jalur Dubai-Abu Dhabi. Tahun 2020, megaproyek ini ditarget mulai operasional. Sayang, pembuktian ini tak lagi bisa disaksikan oleh Gerard K O'Neill. Salah satu konseptor wahana antariksa Apollo dan Challenger itu meninggal 1992 karena serangan kanker leukemia.

Dedi Junaedi

Comments

Popular posts from this blog

Wakalah, Hiwalah dan Kafalahah, Hiwalah dan Kafalah

Indikator Keberhasilan Pembangunan Dalam Perspektif Islam

Magnet Bumi Berubah: Kelak, Matahari Terbit dari Barat!