Sistem Imun

Oleh Dedi Junaedi
Wartawan dan Dosen Ekonomi Islam INAIS Bogor
Immunoterapi atau terapi sistem imun disebut-sebut sebagai terobosan besar untuk mengatasi masalah penyakit kanker. Belakangan para ahli dan peneliti kedokteran dari sejumlah negara pun antusias untuk mendalaminya.
Adik-adik tahu, apakah system imun? Sistem imun adalah sistem kekebalan tubuh. Dia merupakan sistem pertahanan tubuh sebagai perlindungan terhadap infeksi benda asing. Benda asing dapat bermacam-macam bentuknya. Antara lain dapat berupa makromolekul asing atau serangan mikroba pathogen seperti virus, bakteri, protozoa dan parasit.
Sistem kekebalan juga berperan dalam perlawanan terhadap protein tubuh dan molekul lain seperti yang terjadi pada autoimunitas. Atau justru melawan sel yang bertransformasi menjadi tumor atau sel kanker. Tumor adalah sel jinak yang terbentuk melebihi kebutuhannya pada organ atau jaringan tertentu. Sedang kanker adalah sel-sel tumor yang ganas dan bisa menyebar ke seluruh tubuh.
Jika ada benda asing masuk ke tubuh, reaksi perlawanan akan muncul secara alamiah. Nah, pertahanan awal terhadap organisme asing dimulai dari jaringan terluar tubuh. Mulai dari kulit, permukaan mukosa saluran pencernaan, dan permukaan mukosa saluran pernapasan. Pada keduanya terkandung banyak sel termasuk makrofag dan neutrophil. Disebut fagosit, keduanya (makrofag dan neutrophil)) siap melumat organisme lain pada saat terjadi penetrasi pada permukaan kulit. Bagian ini disebut system imun bawaan.
Pertahanan kedua adalah sistem imun adaptif. Yakni sistem kekebalan yang muncul yang muncul dari system limfosit dan sumsum tulang sebagai reaksi adaktif darri sistem fisiologi tubuh setelah ada pengalaman infeksi sebelumnya.
Sistem imun bawaan dan imun adaptif mempunyai fungsi sama: melawan benda asing. Meski begitu ada perbedaan yang mencolok. Antara lain sistem imun adaptif tidak dapat terpicu secepat sistem imun bawaan. Sistem imun adaptif hanya merespon imunogen tertentu. Sedangkan sistem imun bawaan merespon nyaris seluruh antigen.
sistem imun adaptif menunjukkan kemampuan untuk "mengingat" imunogen penyebab infeksi dan reaksi yang lebih cepat saat terpapar lagi dengan infeksi yang sama. Sistem imun bawaan tidak menunjukkan bakat mengingat reaksi kekebalan (immunological memory).
Ternyata, semua sel yang terlibat dalam sistem imun berasal dari sumsum tulang. Ada sel punca progenitor mieloid berkembang menjadi eritrosit, keping darah, neutrofil, dan monosit. Sementara sel punca yang lain adalah progenitor limfoid merupakan prekursor dari sel T, sel NK, sel B.

Sistem imun manusia dan hewan vertebrata dipengaruhi oleh modulasi beberapa hormon neuroendokrin. Antara lain endofrin, ACTH, TSH, GH, LH, FSH, PRL, CRF,TRH, GNRH, dan SOM (lihat tabel).
Adik-adik, sistem imun juga dimiliki makhluk lain. Misalnya, bakteri memiliki sistem modifikasi restriksi untuk serangan patogen seperti bateriofaga. Pada sistem ini, bakteri memproduksi enzim endonuklease yang menyerang dan menghancurkan bagian spesifik dari DNA virus atau bakteriofag. Makhluk invertebrata (tidak bertulang belakang) tidak memiliki limfosit atau antibodi berbasis sistem imun humoral. Namun invertebrata memiliki mekanisme sendiri yang menjadi pendahulu dari sistem imun vertebrata. Mereka memiliki reseptor pengenal pola untuk mengidentifikasi molekul asing. Yakni sistem komplemen biokimia untuk membantu membersihkan patogen dari organisme. Beberapa invertebrata, termasuk berbagai jenis serangga, kepiting, dan cacing memiliki bentuk respon komplemen yang disebut sistem prophenoloksidase.
Sejumlah invetebrata memiliki peptida antimikrobial dalam sistem imunnya. Beberapa spesies serangga memproduksi peptida antimikrobial defensin dan cecropin.
Sistem imun juga ada pada tanaman. Seperti hewan, tanaman dapat diserang serangga dan patogen lain. Seperti invertebrata, tanaman tak menghasilkan antibodi, respon sel T, atau membuat sel untuk mendeteksi patogen. Saat terinfeksi, bagian-bagian tanaman dibentuk agar dapat dibuang dan digantikan.
Kebanyakan respon imun tanaman melibatkan sinyal kimia sistemik. Tanaman menggunakan reseptor pengenal pola untuk identifikasi patogen dan memulai respon dengan memproduksi sinyal kimia untuk menjaga diri dari infeksi. Ketika terinfeksi patogen, tanaman memproduksi respon hipersensitif local. Efeknya sel sekitar area terinfeksi seperti ‘bunuh diri’ untuk mencegah penyebaran penyakit ke bagian tanaman lainnya. Respon hipersensitif tanaman ini mirip dengan respon perlawanan infeksi (pirotopsis) pada hewan.

Dedi Junaedi

Comments

Popular posts from this blog

Wakalah, Hiwalah dan Kafalahah, Hiwalah dan Kafalah

Indikator Keberhasilan Pembangunan Dalam Perspektif Islam

Magnet Bumi Berubah: Kelak, Matahari Terbit dari Barat!