AI Berpotensi Menghancurkan Peradaban

Oleh Dedi Junaedi, Wartawan dan Dosen INAIS Bogor

Dunia perlu waspada menggunakan artificial intelligence (AI). Fisikawan Stephen Hawking telah memperingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) berpotensi menghancurkan peradaban. Bahkan, bisa menjadi sumber bencana terburuk bagi kemanusiaan.
Berbicara dalam sebuah konferensi teknologi di Lisbon, Portugal, 17 Novemver 2017, Hawking mengatakan bahwa umat manusia harus menemukan cara untuk mengendalikan komputer, terutama yang berbasis IT. "Komputer bisa, secara teori, meniru kecerdasan manusia, dan melampaui itu," katanya.
"Keberhasilan dalam menciptakan AI yang efektif, bisa menjadi peristiwa terbesar dalam sejarah peradaban kita. Lombatan kemajuan mungkin akan tercapai. Tetapi, yang sebaliknya juga bisa terjadi. Kita tidak dapat memastikan apakah AI akan membantu manusia menyelesaikan persoalannya secara tak terbatas, atau manusia justru dapat terabaikan, tersaingi, atau malah dihancurkan olehnya. "
Hawking mengatakan, sementara AI memiliki potensi untuk mentransformasi masyarakat menuju hal-hal positif. Seperti bisa digunakan untuk meningkatkan produktivitas, memberi nilai tambah, dan mengatasi masalah penyakit. Pada saat yang sama, juga ada risiko besar. ‘’Masyarakat harus siap menghadapi kemungkinan terburuk,’’ tegasnya.
"AI bisa menjadi peristiwa terburuk dalam sejarah peradaban kita. Ini berpotensi membawa bahaya, seperti senjata cerdas otonom nan berbahaya, atau menjadi sarana baru bagi sedikit orang untuk menindas banyak orang. Bila dibiarkan, jelas, ini bisa membawa gangguan besar pada ekonomi kita, "katanya.
Ini bukan pertama kalinya Hawking memperingatkan tentang bahaya AI. Dalam sebuah wawancara dengan Wired, fisikawan Universitas Cambridge mengatakan, suatu hari nanti AI bisa mencapai tingkat kritis, di mana ia dapat mengungguli manusia dan menjadi "bentuk kehidupan baru".
"Saya khawatir AI bisa menggantikan manusia," ungkapnya kepada majalah tersebut. "Jika orang merancang virus komputer, seseorang akan merancang AI untuk memperbaiki dan mereplikasi dirinya sendiri. Ini akan menjadi bentuk kehidupan baru yang mungkin lebih baik dari kemampuan manusia."
Dia mengingatkan, AI dapat mengambil alih kendali dunia, entah dengan menghancurkan atau memperbudak manusia. Hawking, selama beberapa tahun terakhir, juga menjadi semakin vokal menyuarakan pentingnya mencari bumi alternative yang luas dan lebih nyaman.
"Planet ini suatu saat akan menjadi tempat yang sesak dan panas. Kita akan kehabisan ruang. Sudah waktunya, kita menatap dunia lain. Inilah saatnya untuk mengeksplorasi sistem tata surya lainnya. Menyebarkan mungkin satu-satunya hal yang menyelamatkan kita dari diri kita sendiri. Saya yakin, manusia kelak harus meninggalkan bumi."
Kegelisahan terhadap AI juga disampaikan Elon Musk. Penggunaan AI pada senjata dan mesin perang, misalnya, dapat menimbulkan malapetaka besar. Contoh, seandainya benar, Korea Utara berhasil mengembangkan rudal-rudal nuklir dengan AI sebagai pengendalinya. Sulit dibayangkan, bila perang nuklir terjadi antara AS dan Korea Utara. Yang hancur tak hanya dua negara bersengketa, tetapi juga negara-negara lainnya di kawasan regional maupun lingkungan global.
Mengapa miliarder seperti Elon Musk membuat pernyataan menakutkan tentang kemunculan AI? Penulis fiksi ilmiah Ted Chiang menduga sebagai hasil refleksi atas keterlibatan Musk dalam pengembangan industry berbasis AI. Alih-alih melayani dan mensejahterakan umat manusia, AI malah telah menjajah kita melalui aneka perusahaan derivatifnya.
Elon Musk termasuk barisan ilmuwan yang gigih mengembangkan kecerdasan buatan sebagai teknologi antarmuka saraf buatan, chip implant, untuk menghubungkan otak manusia dengan jaringan superkomputer. Maret lalu, Elon Musk mengumumkan pembuatan Neuralink, sebuah startup koneksivitas untuk menghubungkan otak manusia dengan komputer. Sementara Bryan Johnson (IBM) mengembangkan DeepMind.
Chiang mengutip ungkapan Jameson: "Lebih mudah membayangkan akhir dunia daripada membayangkan akhir kapitalisme." Dia menilai Musk punya imajinasi liar. Alih-alih mempercayai reformasi politik ekonomi yang lamban bergulir, dia lebih tertarik menyelesaikan masalah dengan mesin-mesin cerdas di masa depan.
Etos budaya startup bisa menjadi cetak biru peradaban AI. Kecerdasan buatan memungkinkan industri bergerak cepat dengan infrastruktur yang stabil. Meski begitu, untuk meminimalisir dampak negatifnya, pengamat industri memandang perlu adanya etika penerapan AI. Perlu ada pengawasan sehingga AI tumbuh ramah terhadap manusia dan lingkungannya.
Sejauh ini, perkembangan kemajuan inovasi berbasis AI memang luar biasa. Perannya cukup impresif memperkaya aneka game dan robot mainan. Ajang Future of Go Summit di China, Mei 2017, menjadi saksi maraknya aplikasi AI dalam pengembangan produk seperti AlphaGo, DeepMind, dan AlphaGo Zero. Begitu juga dalam permainan poker Texas Hold'em dan Pac-Man.
Robot Lebih Menakutkan
Pada 2017, Boston Dynamics telah mengembangkan robot humanoid ATLAS sebagai tentara super cyborg yang bisa salto depan-belakang. Demikian robot terbarunya, Handle, mampu bergerak dan melompat seperti keledai roda dua. Sementara itu, robot-robot Spot Mini, berkat AI terbaru, tampil lebih dingin, lebih ramping dan lebih mengerikan. Robot-robot canggih nan gesit lainnya pun terus bermunculan.
Robot-robot humanoid, misalnya, mulai mampu mengajarkan keterampilan baru kepada robot lainnya. Robot senjata cerdas berlapis baja dengan kendali otonom dikhawatirkan menimbulkan malapetaka yang sulit dikendalikan manusia. Tim panel ahli PBB bidang robot dan drone, merekomendasikan larangan penggunaan AI dalam alat dan mesin persenjataan modern.
Beberapa kalangan juga khawatir AI digunakan para biohacker untuk memodifikasi subtansi genetika secara mandiri. Secara normal, perlu waktu 10-15 tahun untuk mengubah konsep obat biogenetika menjadi resep dokter. Tidak sabar dengan lambannya aplikasi konvensi kesehatan, kalangan biohacker mengambil jalan pintas mengedit materi genetik, dengan mengelola teknik perawatan eksperimental sendiri.
Oktober lalu, Tristan Roberts, programmer computer berusia 27 tahun, telah memamerkan aksi yang disebutnya sebagai pengobatan HIV DIY di Facebook Live. "Anda tidak bisa menghentikannya. Anda tidak bisa mengatur hal-hal seperti ini," ungkapnya sembari menyiapkan suntikan cairan DNA racikannya. Biohacker Josiah Zayner melakukan hal serupa, menyuntik dirinya dengan gen modifikasi CRISPR untuk menumbuhkan otot pada konferensi bioteknologi di San Francisco.
Meski FDA mewanti-wanti ihwal terapi gen, faktanya banyak peneliti independen aktif menjajakan jasanya di dunia maya. Para biohacker bereksperimen mengedit gen-gen DIY sebagai solusi terapi gen untuk beragam penyakit. Agustus lalu, FDA menyoroti beredarnya Kymriah sebagai solusi pengobatan leukemia pada anak-anak dan orang dewasa. Aplikasi lain untuk beragam kanker juga ditawarkan.
Dengan AI, tim periset RS Anak Philadelphia konon berhasil membuat rahim buatan. Tahap awal, mereka menumbuhkan seekor anak domba. Ada enam janin prematur ditempatkan dalam wadah plastik berisi ‘ketuban’. Anak-anak domba bisa tumbuh normal dalam lingkungan terkontrol dan steril. Pertumbuhannya sampai masa setara fase gestasi 23-24 minggu pada manusia. Terobosan ini diharapkan menjadi solusi masalah bayi prematur manusia. Penggunaan AI dalam aplikasi kedokteran membuka pintu revolusi bioteknologi. Masalahnya, bagaimana jika dipakai untuk tujuan negatif?
Isu lain yang tak kalah serius adalah potensi AI untuk membuat berita fiksi dan hoaks. Perusahaan starup Lyrebird, misalnya, telah mengembangkan algoritma imitasi suara yang bisa meniru suara seseorang. Diberitakan, ilmuwan komputer University of Washington juga mengembangkan sistem mesin pembelajar untuk gerakan wajah dan bibir orang tertentu. Dalam beberapa contoh, mereka berhasil membuat tiruan suara Presiden Barack Obama.
Sementara itu, peneliti Nvidia mengembangkan algoritma pembelajaran mesin yang dapat mengubah video berlatar pedesaan yang dingin menjadi setting perkotaan dan musim panas. Bila diteruskan, programmer nakal dapat saja menciptakan konten pornografi palsu, menggunakan wajah selebriti semisal Scarlett Johansson, dan Taylor Swift. Lantas, bagaimana jadinya bila aplikasi ini dipakai untuk modus penipuan dan pemerasan?
Dedi Junaedi

Comments

Popular posts from this blog

Wakalah, Hiwalah dan Kafalahah, Hiwalah dan Kafalah

Indikator Keberhasilan Pembangunan Dalam Perspektif Islam

Magnet Bumi Berubah: Kelak, Matahari Terbit dari Barat!